Coretan Penghuni Jalanan

Kaum Termarjinalkan

Image

Realita kehidupan membuat sebuah persaingan dan kompetisi yang ketat dalam proses meraih sebuah status “kehidupan yang layak”. Etika dan estetika,nilai dan norma serta paham dan renungan telah membuat perbedaan dalam status sosial di kalangan manusia. Hal ini juga yang kadang membuat manusia mampu mengenal dirinya sendiri namun seligus juga terkadang saling “menjatuhkan” satu sama lain dalam hal karakter,jabatan,status sosial sampai menghilangkan manusia lain secara ragawi.

Hal-hal yang menjadi fenomena nyata sering membuat logika tak mampu menerima bahkan menolaknya dengan esensi yaang masih tidak nyata pembuktiannya dalam sebuah kepercayaan di setiap pembauran sebagai makhluk sosial, dengan kata lain kenyataan berbanding terbalik dengan keinginan manusia. Inilah yang membuat manusia terkadang merasa berbeda, di kucilkan,terasingi bahkan di rendahkan oleh manusia lain yang merasa keadaannya lebih baik dengan kesuksesan yang mereka raih dalam hidup.

Ada beberapa orang yang membuat orang lain menyebutnya sebagai “kaum marginal” atau “kaum minoritas”, “kaum berbeda cara hidupnya bahkan terkadang disebut kaum terpinggirkan”. Salah satu kumpulan itu adalah anak-anak jalanan atau mereka biasa menyebutnya “kaum kebebasan”.

Mereka bisa dikatakan bebas karena cara hidup yang mereka lakukan dan tampilkan kepada orang lain, identik dengan kebebasan,perjuangan,hura-hura,tidak memiliki etika,estetika,nilai dan norma yang akhirnya membuat mereka terkadang “kebablasan”. Namun dari mereka lah terdapat sisi yang positif yang bisa kita pelajari, apa sisi itu yang terkadang tidak di hiraukan oleh sebagian orang..?

Ya, sisi itu adalah sisi “KEJUJURAN” dalam menjalani dinamika kehidupan. Mereka (kaum marginal) telah mengalami begitu banyak cobaan dan pahit getir kehidupan, mulai dari mencari sesuap nasi untuk bertahan hidup,mencari kesenangan bahkan untuk di akui serta di percaya orang lain dalam melakukan sebuah pekerjaan demi penghidupan layak telah mereka lakoni dengan sebuah kejujuran.

Mereka melakukan apa yang  mereka bisa lakukan dengan segala cara yang mereka miliki, walaupun ketika menemui kebuntuan dalam mencapai sesuatu terkadang mereka menggunakan jalan pintas. Sebenarnya secara psikologis, bukan hanya kaum marginal saja yang menggunakan jalan pintas dalam mencapai tujuan yang di inginkan,terkadang kita yang merasa “kaum mayoritas” melakukan hal yang sama.

Sadar atau tidak, itu terjadi karena karakter dalam diri manusia yang tidak terbiasa berada dalam suatu tekanan, tidak bisa bersyukur menerima sebuah kenyataan pahit atau menyakitkan dan untuk memenuhi hasrat ketidakpuasannya terhadap apa yang telah di miliki. Cuma yang membedakan adalah, kaum marginal sudah terbiasa mengalami hal seperti ini sedangkan kita yang menjadi kaum mayoritas hanya seskali merasakannya (walau pun kadang kita yang lebih sering menggunakan jalan pintas itu demi mewujudkan banyaknya keinginan yang tidak sesuai kemampuan).

Kaum marginal lah yang mengajarka kepada ku bagaimana arti sebuah “kejujuran yang sebenarnya” dalam menjalani hidup. Mereka mencari makan,bertahan dari siksaan secara psikologis dan psikis, serta mencari bahkan membuat suatu keadaan untuk menghibur hati dan lara yang di alami,entah dengan bernyanyi,membuat lagu-lagu jeritan hati atau hanya sekedar melakukan hal gila yang tak pernah mereka lakukukan sebelumnya.

Kadang aku bertanya kepada mereka tentang “TUHAN” bagi kehidupan mereka. Beragam jawaban mereka, ada yang menjawab “Tuhan itu ada di sini (menunjuk ke arah dada) yang artinya ada dalam hati mereka, ada juga yang masih mempercayai keberadaan Tuhan-Nya dengan melakukan peribadatan, bahkan ada yang sudah tidak percaya dengan kebesaran Tuhan karena ujian hidup yang diberikan terlalu berat bagi mereka, yang pada akhirnya mereka merasa berjuang sendiri,sedangkan Tuhan tidak bersama mereka.

Memang siapa pun tidak bisa memaksakan seseorang untuk memahami sebuah kepercayaan yang hakiki yaitu memeluk sebuah agama, sebab dalam UUD’45 pun bahkan di dalam etika beragama dan pemahamannya tidak ada paksaan bagi seseorang untuk memeluk suatu agama yang di yakini sebagai jalan hidup.

Tapi minimal mereka (kaum marginal) telah menunjukkan salah satu point penting yang harus di miliki sesorang dalam menjalani kerasnya kompetisi kehidupan bahkan point ini pun terdapat dalam ajaran agama mana pun yaitu “KEJUJURAN”.

Dari sini lah aku beranjak terus mengenal dalam memahami tentang arti sebuah kehidupan yang hanya kita lalui satu kali, hanya sesaat dengan segala keterbatasan waktu,pikiran,kemampuan dan harapan. Dengan pelajaran ini,dari kaum marginal, dari satu point yang menjadi banyak harapan yang akan terus di usahakan perwujudannya, tentang hidup yang lebih baik dan terus bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini dengan tidak menyampingkan orang-orang yang telah mengajarkan ku tentang hidup, termasuk kaum marginal.

Semoga anda mampu mengambil pelajaran dari setiap hal yang disepelekan.dikucilkan bahkan terkadang anda buang jauh-jauh. “Dari kaum marginal, aku belajar kejujuran dalam hidup”, bagaimana dengan anda sendiri.?

This entry was published on March 29, 2012 at 6:54 am. It’s filed under Potret Kelam and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: