Coretan Penghuni Jalanan

Inflasi Anak Jalanan Meroket

Persoalan anak jalanan pada masa sekarang tampaknya tidak ada perbedaan dengan kenyataan anak jalanan pada periode-periode sebelumnya. Berbagai situasi yang mengancam pertumbuhan dan keberlangsungan hidup mereka masih merupakan ancaman nyata. Berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi masih menjadi warna-warni kehidupan keseharian mereka.

Dewasa ini, pertumbuhan anak jalanan di indonesia semakin meningkat, terutama di kota-kota besar. Jakarta ,Surabaya , Semarang , Bandung adalah salah satu contoh, dimana kita akan sangat mudah menemui anak jalanan di berbagai tempat, mulai dari perempatan lampu merah, stasiun kereta api, terminal, pasar, pertokoan, dan bahkan mal. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa biasanya mereka memang dikoordinir oleh kelompok yang rapi dan profesional, yang sering disebut sebagai mafia anak jalanan.

Perkembangan situasi anak jalanan di beberapa kota, ada kesamaan, yaitu bahwa anak jalanan pada masa sekarang, bukan lagi berasal dari luar kota yang memasuki sebuah kota tertentu. Tetapi, anak jalanan sekarang ini sebagian besar (bisa mencapai di atas 80%) berasal dari kota itu sendiri. Artinya, anak-anak bukan dalam masa ”pelarian” dari rumah dan lingkungannya. Rata-rata usia anak jalanan yaitu sekitar dua sampai 15 tahun. Mereka umumnya tidak lagi mengenal dunia keluarga. Mereka tidak mengenal dunia pendidikan. Mereka tidak mengenal lagi dunia bermain dan sebagainya. Mereka berhadapan dengan kekerasan di jalanan setiap hari. Kita bisa bayangkan anak-anak pada usia dua tahun terpaksa harus menghidupi diri sendiri dengan menghadapi kekerasan yang begitu luar biasa di kota-kota besar di Indonesia’.

Secara moral, anak-anak jalanan baru, tidak memiliki ketakutan bahwa kegiatan yang dilakukan di jalanan bisa diketahui oleh orangtua/keluarga dan teman-teman sebayanya baik di lingkungan tempat tinggal maupun di sekolah. Oleh karena itu, maka pengentasan terhadap mereka menghadapi tantangan baru, yaitu nilai-nilai sosial yang telah bergeser. Ini tentu akan menyulitkan mendorong anak untuk keluar dari jalanan dan tinggal bersama orangtua/keluarganya kembali. Orangtua/keluarga-pun seakan ”mengamini” keberadaan anak di jalanan bukan sebagai hal yang memalukan dan menjadi aib di lingkungan sekitar mereka. Diantaranya bahkan menjadi pelaku eksploitasi ekonomi bagi anak-anak mereka sendiri.

This entry was published on March 29, 2012 at 9:19 am. It’s filed under Torehan Jalanan and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: