Coretan Penghuni Jalanan

Anak Jalanan , Penyakit atau Yang Tersakiti ?

Anak jalanan

Kata apakah yang muncul saat pertama kali kita mendengarnya?

Mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab dekil, jorok, tidak berpendidikan, urakan, dan banyak kata negatif lainnya. Tapi pernahkah kita berusaha menempatkan diri kita di posisi mereka? Melihat dunia dari perspeksi mereka? Pernahkah kita berpikir apa yang salah dengan mereka? Mengapa mereka lebih banyak di jalan daripada berkumpul dan bercengkrama dengan keluarga mereka?

Banyak orang mengatakan anak jalanan adalah polemik yang terus menghantui negeri ini. Mereka sering sekali menurut sebagian orang mengganggu ketertiban umum. Meskipun saya sendiri kadang tidak mengerti ketertiban siapa yang di ganggu?  Siapakah yang lebih terganggu, ketertiban sebagian orang itu atau malah kehidupan dari anak jalanan itu? Dengan dalih mengganggu ketertiban umum mereka dengan seenaknya menangkap, merazia, bahkan mengejar dan memukuli mereka layaknya binatang, padahal banyak diantara anak jalanan itu yang masih dibawah umur.

Saya yakin bahwa tidak ada anak jalanan yang ingin terlahir sebagai anak jalanan. Mereka juga pastinya ingin memiliki kehidupan seperti layaknya anak seumurannya. Tetapi “keadaan ekonomi” mereka mengharuskan mereka untuk turun ke jalan, bekerja untuk menyokong ekonomi keluarganya. Saya menulis keadaan ekonomi dengan tanda petik karena makin hari saya tidak mengerti tolok ukur apakah yang dipakai dalam mengukur keadaan ekonomi mereka. Banyak anak jalanan yang masih tetap harus turun ke jalan dan mengorbankan waktu bermain dan pendidikan mereka untuk mencari rupiah, padahal orang tua mereka hanya duduk-duduk di rumah sambil menonton televisi dan menikmati nikmatnya minuman dingin yang mereka buat dari lemari es mereka. Mereka dengan dalih susah mencari kerja jaman sekarang lebih memilih memberdayakan anak-anak mereka untuk menyokong ekonomi mereka. Mereka sudah terlena dengan enaknya mendapat setoran rupiah di penghujung hari yang diberikan oleh anak mereka. Bahkan tidak jarang mereka beralasan anak-anak hanya mereka membantu ekonomi mereka yang lemah, padahal jika kita lihat isi rumah mereka tidak mencerminkan bahwa mereka berasal dari ekonomi lemah. Mereka lebih memilih mengorbankan masa kecil anak mereka untuk kenyamanan mereka sendiri.

Selain tuntutan orang tua, anak jalanan juga harus menghadapi kerasnya kehidupan jalanan setiap hari. Mereka harus bersaing dengan sesama anak jalanan untuk dapat menghasilkan rupah. Kekerasan menjadi jalan yang harus ditempuh untuk dapat terus bertahan hidup. Kekerasan juga yang harus mereka terima setiap hari untuk dapat bertahan hidup.

Setelah melihat paparan diatas, masihkah kita memandang anak jalanan ddengan sebelah mata? Padahal mereka hanya korban, korban dari keegoisan orang tuanya, korban dari orang yang tidak bertanggung jawab, dan korban dari sistem pemerintahan yang bobrok.

Mengapa saya mengatakan korban dari sistem pemerintahan yang bobrok?

Bila kita lihat pada Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 pasal 34 sudah disebutkan dengan jelas bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Tetapi tindakan pemerintah kita malah mengindikasikan sebaliknya. Pemerintah daerah mengeluarkan perda yang melarang anak jalanan dan pengemis di jalanan tanpa memberikan wadah yang memadai untuk menyambung hidup mereka. Mereka berpikir dengan menangkapi anak jalanan dan memberikan sedikit kursus tentang usaha mandiri telah memenuhi kewajiban mereka terhadap pasal 34 UUD 1945 dan telah berusaha untuk membuat perubahan pada diri anak jalanan. Mereka selalu berdalih bahwa mereka sudah bertindak semampu mereka untuk menyadarkan anak jalanan.

Anak jalanan adalah sikap mental, mereka diharuskan untuk dapat bertahan dalam lingkungan yang keras, dan mereka beradaptasi dengan linkungan itu. Pemerintah seringkali melewatkan hal ini, sehingga mereka hanya menitik beratkan pada pemberian pengetahuan tentang usaha mandiri alih-alih berusaha merubah cara pandang anak jalanan itu. Mereka haruslah diyakinkan bahwa ada cara hidup yang lain yang bisa mereka jalani  dan membuat mereka lebih diharagai. Dan sudah selayaknya menjadi tugas kita semua untuk dapat meyakinkan mereka bahwa mereka mengambil keputusan yang benar dengan meninggalkan kehidupan jalanan mereka dengan menerima mereka dengan tangan terbuka dan memberi kesempatan pada mereka untuk berubah.

This entry was published on March 31, 2012 at 5:14 am. It’s filed under Realitas Jalanan and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: