Coretan Penghuni Jalanan

Berbicara Fakta !!

Image

Data menunjukkan jumlah anak putus sekolah di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2006 jumlahnya “masih” sekitar 9,7 juta anak. Namun, setahun kemudian sudah bertambah sekitar 20 % menjadi 11,7 juta jiwa.
Menurut catatan Komnas Perlindungan Anak pada tahun 2007 sekitar 155.965 anak Indonesia hidup di jalanan. Sementara pekerja di bawah umur sekitar 2,1 juta jiwa. Anak-anak tersebut sangat rawan menjadi sasaran perdagangan anak. Data dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional dan sensus nasional tahun 2002 menyebutkan anak Indonesia yang putus sekolah di tingkat SD sebesar 1,46 persen, putus sekolah di tingkat SMP/MTs sebesar 2,27 persen dan di tingkat SMA sebesar 2,48 persen. Selain itu masih ada sekitar 283.990 anak yang buta aksara. Salah satu penyebab anak putus sekolah itu adalah gizi buruk. Dari 23,725 juta anak Indonesia, 1,25 juta mengalami gizi buruk.. Selain masalah pendidikan, mereka yang kurang beruntung akhirnya harus bernasib menjadi anak jalanan, anak yang diperdagangkan, anak korban eksploitasi, anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang mengidap HIV/AIDS dan anak korban narkoba. Belum lagi anak-anak yang berkonflik dengan hukum. Bahwa ada kecenderungan anak semakin dieksploitasi oleh orang tua atau terpaksa mencari nafkah, diungkapan Peneliti dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia, Donovan Bustami, yang mengutip data dari Depnakertrans menyebutkan jumlah pekerja anak di Indonesia pada tahun 1995 sebesar 1,6 juta, kemudian meningkat menjadi 1,7 juta di tahun 1996 dan meningkat kembali menjadi 1,8 juta pada tahun 1997. Tahun 1998 mencapai 2,1juta anak..
Data itu tidak menggambarkan situasi yang sesungguhnya, bahwa jumlah pekerja anak jauh lebih besar dari data BPS atau Depnakertrans. Karena laporan Depdiknas menunjukkan bahwa antara tahun 1995-1999 tercatat 11,7 juta anak usia sekolah yang terpaksa putus sekolah dengan alasan
bekerja.

FAKTA ANAK JALANAN

Data terakhir (2008) yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa anak jalanan Indonesia berjumlah 154.861 jiwa. Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA, 2007), hampir separuhnya, yakni 75.000 anak jalanan berada di Jakarta. Sisanya tersebar ke kota-kota besar lainnya seperti Medan, Palembang, Batam, Serang, Bandung, Jogja, Surabaya, Malang,semarang dan Makassar.
Anak jalanan dapat dibagi dalam tiga kategori, yakni:

1.Children of the Street
24 jam hidup di jalanan. Makan, tinggal, tidur, dan bekerja di jalan.Tidak ada lagi kontak dengan keluarga, tidak lagi pulang ke rumah (meskipun ada). Tidak bersekolah.

2.Children on the Street
Masih memiliki keluarga dan pulang ke rumah, sebagian ada yang bersekolah. Kategori inilah yang meroket jumlahnya semenjak krisis 1997 melanda Indonesia, berhubung penghasilan orang tua yang menurun karena gelombang PHK dan krisis ekonomi yang melanda. Membantu orang tua termasuk membiayai biaya sekolah menjadi salah satu alasan mereka bekerja di jalan.

3.Children Vulnerable to Be on the Street
Kelompok anak yang berteman dengan 2 tipe di atas & terkadang ikut-ikutan turun ke jalan. Yang melihat “asyiknya” gaya hidup jalanan: bebas, punya uang, dll. Tinggal menunggu the “crash” moment seperti dipukul orang tua, perceraian, bencana (kebakaran, penggusuran, banjir, dsb) untuk masuk dalam tipe 1 atau 2.

Menurut hasil penelitian di 12 kota besar yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan, jumlah anak jalanan tahun 2003 sebanyak 147.000 orang. Dari data tersebut terungkap, sebanyak 60% putus sekolah, 40% masih sekolah. Sedangkan sebanyak 18% adalah anak jalanan perempuan yang berisiko tinggi terhadap kekerasan seksual. Selain itu, banyaknya anak turun ke jalan tidak lain karena kemiskinan yang menerpa keluarga mereka. Berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan, alasan anak bekerja di jalan benar karena membantu pekerjaan orangtua sebanyak 71%, dipaksa membantu orangtua 6%, menambah biaya sekolah 15%. Sedangkan alasan ingin hidup bebas, untuk uang jajan, dapat teman, dan lainnya sekitar 33%.
Tapi dari survey yang dilakukan beberapa LSM-LSM independent termasuk survey Yayasan YBK MOVETA (2001-2008) di semarang didapati alasan anak turun ke jalan dan menjadi ‘anak jalanan’ adalah 80% masalah ketidak harmonisan dalam rumah tangga. Sedangkan sisanya merupakan masalah ekonomi
Secara umum di Indonesia dipercaya alasan utama anak turun kejalan alasan ekonomi keluarga masih menjadi pendorong utama anak bekerja di jalan. Akibatnya sebanyak 13% anak jalanan mengalami putus sekolah dalam usia sekolah karena kekurangan biaya. Ada satu fakta menarik, yaitu si anak bisa menjadi sumber ekonomi keluarganya. Sebab pada umumnya seluruh penghasilan mereka diberikan kepada orang tuanya. Artinya, ternyata memang anak jalanan itu menjadi aset ekonomi keluarga. Dan hal tersebut yang mempersulit menarik anak dari jalanan dan mengembalikan mereka ke dunia anak-anak. Bahkan dalam berbagai kasus malah orang tua anak sendiri yang mengharuskan si anak untuk tidak sekolah tapi menganjurkan untuk “cari duit” saja. Buat apa sekolah demikian kata mereka “wong” dengan ngamen saja sudah dapat uang kok.

SIAPAKAH YANG BERTANGGUNG JAWAB?

Lalu, ke mana dan kepada siapakah anak-anak ini bisa mengadukan nasibnya? Orang tua mereka sendiri tiap hari banting tulang mencari nafkah di sektor informal dengan gaji yang hanya cukup untuk makan. Yang lain terlalu sibuk dengan urusan mereka sehingga si anak tidak menemukan kasih sayang dirumah. Sesuai bunyi UUD 1945 pasal 34 ayat 1 “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”, maka pemerintah memang menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dalam menangani nasib anak-anak Indonesia yang terlantar. Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) pernah diluncurkan, rumah-rumah singgah didirikan dan disubsidi, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dihadirkan di sejumlah titik, namun belum mampu mengurangi eksodus anak-anak marjinal ini ke jalan.
Tangggung jawab pemerintah sajakah? Tentu saja tidak. Nasib bocah-bocah kurang beruntung itu adalah tanggung jawab kita semua, apalagi Gereja Tuhan. Bahkan bisa jadi kitalah yang membuat mereka betah di jalan. Dalam kasus anak jalanan bila kita kalikan jumlah mereka sesuai data BPS di atas (150.000 anak) dengan jumlah penghasilan yang mereka peroleh perhari berkisar Rp 20.000 (perhitungan paling minim,biasanya 30.000), maka setiap harinya rakyat Indonesia membuang receh sebesar 3 milyar rupiah. Satu angka dahsyat yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita karena mengganggap memberi lembaran seribu tatkala menemui tangan-tangan kecil yang menengadah adalah satu filantropi minimal yang bisa kita lakukan.Patut disayangkan bila nominal sebesar itu seringkali mereka habiskan – sesuai natur anak – untuk jajan, bermain dingdong atau tempat penyewaan play station. Bila tidak, mereka masih harus menghadapi kemungkinan diperas oleh preman, menyetor ke orang tua atau para senior, atau untuk tebusan saat mereka terjaring operasi kamtib. Akan lebih baik bila jumlah sebesar itu diperuntukkan untuk bantuan yang bersifat jangka panjang, seperti beasiswa sekolah, asupan nutrisi rutin, modal usaha bagi orang tua mereka, pembekalan ketrampilan bagi anak putus sekolah,dan program-program bermanfaat lainnya.
Penanganan nasib komunitas anak marjinal tidak bisa ditunda lagi dan dibiarkan berlarut dengan asumsi ada pemerintah, LSM serta aktivis sosial yang menangani. Angka 12,7 juta anak yang putus sekolah (Komnas HAM; 2004), 4,2 juta pekerja anak (ILO; 2007), ditambah mereka yang mengalami malnutrisi, korban trafficking, korban fedofilia, korban penjualan organ (seperti kasus mutilasi bocah yang sempat dikira Asep), dan hal-hal destruktif lainnya adalah satu jumlah angkatan besar yang memberi kontribusi signifikan bagi kualitas manusia Indonesia di masa depan. Mereka adalah calon ayah, calon ibu, calon pekerja, calon pemimpin yang bila kualitasnya sudah demikian buruk di masa sekarang, menjadi cerminan bagaimana kualitas mereka 10-20 tahun mendatang. Nasib bangsa ini, suka tidak suka, berbagian dengan mereka.

Mari ambil bagian mulai dari sekarang, meski itu hanyalah hal kecil yang bisa kita lakukan. Setidaknya itu lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali. Daripada memberi uang yang sebagian besar tidak mereka nikmati, mulailah memberi sesuatu yang memiliki manfaat langsung ke mereka dan bukan filanteropi tanpa manfaat. Salurkan beasiswa kepada anak-anak yang berprestasi melalui lembaga yang bisa dipercaya atau bentuk bimbingan belajar di lokasi di mana mereka sering berkumpul. Aksi kecil yang positif secara agregat bisa memberi kontribusi nyata untuk menyelamatkan tunas-tunas bangsa ini.
(diambil dari berbagai sumber dan apa yang kami alami)

This entry was published on April 5, 2012 at 8:59 am. It’s filed under Realitas Jalanan and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: