Coretan Penghuni Jalanan

HIV/AIDS di Sekitar Anak Jalanan

Penanganan anak jalanan (anjal) di kota-kota besar selalu menjadi masalah krusial. Apalagi, sebagian besar di antara mereka adalah remaja tanggung yang diharapkan menjadi generasi muda penerus bangsa. Apa jadinya bila negeri ini dipenuhi generasi muda tanpa harapan.

Belakangan anak yang hidup di jalan pengidap HIV/AIDS kian memprihatinkan. Anak yang hidup di jalanan rawan terkena Human immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Dari 144.889 orang anak jalanan, 8.581 anak terinfeksi HIV. Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan, Sri Astuti Soeparmanto menyatakan dalam 10 tahun terakhir terjadi peningkatan kasus HIV/AIDS.

Secara kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan sampai Desember 2008 berjumlah 8.194 kasus, sedangkan kasus HIV yang dilaporkan 5.230 kasus. Hasil estimasi populasi rawan tertular HIV tahun 2008 sejumlah 193 ribu orang. Dari kasus AIDS yang dilaporkan, 54,76 persen terjadi pada usia 20-29 tahun. Sampai Juni 2008, jumlah pengidap AIDS yang dilaporkan telah mencapai 9.689 kasus, sedangkan kasus HIV yang dilaporkan 5.813 kasus. Urutan kelompok resiko tinggi tertular HIV/AIDS adalah pengguna jarum suntik (IDU), pekerja seks komersial, anak jalanan dan ibu rumah tangga.

Di kalangan pegiat AIDS anak jalanan dan ibu rumah tangga merupakan kelompok resiko yang perlu perhatian serius. Seperti fenomena gunung es, kasus anak jalanan yang terinfeksi HIV/AIDS diperkirakan masih akan terus bertambah. Kehidupan seks bebas di kalangan anak jalanan menjadi penyebab cepatnya penyebaran virus HIV/AIDS.

Gaya hidup bebas dan terbatasnya informasi mengenai seks aman bagi mereka menyebabkan penyebaran kian tidak terkendali. Sayangnya anak-anak ini terpisah dari orang tua sehingga mempersulit dalam upaya pencegahan dan pembinaan. Terlebih, kur­angnya pemahaman mereka mengenai seks aman untuk meng­hindari timbulnya berbagai penyakit menular seksual (PMS), termasuk HIV/AIDS.

Seringnya berganti-ganti pasanga membuat ran­tai penularan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu su­lit ditelusuri. Hal ini diperparah dengan kebijakan pemerintah da­lam penanganan HIV/AIDS, di mana identitas ODHA (orang d­e­ngan HIV/AIDS) disembunyikan dan tidak boleh dipublikasikan. Mobilisasi anak jalanan yang sangat tinggi di berbagai kota juga disinyalir menjadi penyebab cepatnya rantai penyebaran HIV/AIDS di kalangan anak jalanan.

Meski terdapat banyak lembaga yang memiliki fokus perhatian pada pendampingan anak-anak jalanan, keterbatasan anggaran sering menjadi penyebab mengapa pemantauan tidak efektif. Pendamping tidak memiliki shelter-shelter yang memadai bagi mereka yang dinyatakan positif mengidap HIV/AIDS. Bahkan, mungkin yang bersangkutan tidak mengetahui dirinya ter­infeksi HIV/AIDS.

Padahal, jika informasi tidak disampaikan, ODHA tersebut tidak mengetahui bahwa dia berpotensi untuk me­nularkan HIV/AIDS. Tidak adanya perbaikan pola hidup yang selama ini dijalani, membuat penularan HIV/AIDS tidak terkontrol. Ji­ka persoalan seperti ini tidak segera ditangani, bisa dipastikan be­berapa tahun mendatang akan terjadi ledakan kasus HIV/AIDS. Anak jalanan memperoleh informasi seksnya dari teman sebaya atau anak jalanan yang lebih tua, baik buku porno, film/VCD porno atau mengintip orang yang sedang melakukan hubungan seksual.

Mudahnya memperoleh pengetahuan mengenai seks mempengaruhi sikap anak jalanan terhadap hubungan seksual. Pergaulan antar teman juga merupakan sarana yang efektif untuk saling bertukar informasi termasuk pengetahuan mengenai seks. Tak mengherankan banyak anak jalanan usia belasan tahun sudah mahir praktek seks.

Terlebih, anak-anak jalanan terkadang memiliki anggapan hubungan seksual di luar nikah sebagai hal yang wajar, karena itu merupakan urusan dari anak jalanan itu sendiri dan tidak mengganggu kepentingan orang lain. Jika disimak, secara moral hubungan seks di luar nikah jelas diharamkan.

Di samping itu, dari segi kesehatan hubungan seks yang tidak sehat, apalagi bagi anak-anak yang masih di bawah umur, mengandung risiko yang fatal, mulai dari penyakit menular seksual (PMS) hingga ancaman terkenaHIV/AIDS. Sayang sekali jika anak-anak yang masih perlu perlindungan itu menderita penyakit-penyakit yang mungkin sebelumnya tidak mereka ketahui.

Peran para pekerja sosial dan masyarakat lainnya dalam membantu anak jalanan memang sangat penting manakala kita dihadapkan pada masalah-masalah seputar kebiasan seksual anak-anak tersebut. Bahkan di kalangan anak jalanan, ada yang menjadikan seks sebagai mata pencaharian hidup. Anak jalanan ini lebih dikenal dengan sebutan perek. Dan celakanya, pengalaman seks anak jalanan menyebabkan mereka sangat rentan tertular virus HIV/AIDS.
Pada November 1996-Maret 1997, Yayasan Duta Awan melakukan survei pada 500 anjal di Semarang. Hasilnya, 90,4 % pernah berhubungan seksual, baik secara tidak rutin (48,4%), rutin 1 kali/bulan (6,5%), rutin 2-3 kali/bulan (16,2%), rutin 4-6 kali/bulan 6,4%), ataupun rutin 8 kali/bulan (12,9%). Sebanyak 22,8% dilakukan oleh anjal yang masih SD dan 47,9% oleh yang SLTP.

Sementara itu, hasil penelitian yang diberitakan oleh Penggiat Lembaga Perlindungan Anak Jawa Tengah, secara lebih khusus memperlihatkan 64,29% anak jalanan perempuan pernah berhubungan seksual (Surya, 21/11/00). Bahkan, hasil survei Yayasan Setara (1999) mengungkapkan bahwa 46,4% dari anak jalanan perempuan telah “memilih” profesi sebagai pelacur anak-anak.

Sayangnya pula tidak begitu banyak perhatian mengenai HIV/AIDS di kalangan anak jalanan termasuk promosi penggunanaan kondom  (LPA Jateng, 2008 hal 123). Dengan demikian perlu dilakukan program lanjutan untuk anak-anak yang telah memperoleh keterampilan di rumah singgah. Jadi apa yang diperoleh dapat digunakan untuk mencari kerja sehingga dapat keluar dari kehidupan jalanan.

Meski sulit mengubah dan menghilangkan perilaku seksual anak jalanan namun upaya serius dengan melibatkan banyak pihak sangat diperlukan. Karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan untuk memberikan pengetahuan yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS sehingga pengetahuan anak jalanan dapat bertambah.

Deteksi dini status HIV, termasuk VCT bagi anak jalanan sebenarnya sangat bermanfa­at, karena ODHA dapat mengikuti program pembinaan, baik yang di­selenggarakan oleh pemerintah maupun LSM peduli AIDS. Se­hingga, anak jalanan yang menjadi ODHA bisa hidup normal seperti masyarakat umum, dan tidak menularkan penyakitnya pada keluarga maupun orang di sekitarnya.

Perlu ada upaya multi sektor dan lintas bidang guna memecahkan persebaran HIV/AIDS di kalangan anak-anak jalanan. Pendekatan yang lebih manusiawi, tidak menjadikan stigma bagi mereka apalagi pendekatan dengan hukuman sangatlah bermanfaat. Dalam konteks pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS pendekatan moral yang mencari kambing hitam tidaklah tepat dan tidak memadai. Harus dicari solusi reformatif dan menyentuh akar masalah.

This entry was published on April 7, 2012 at 5:09 am. It’s filed under Potret Kelam and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: