Coretan Penghuni Jalanan

Nasib Anak Indonesia di Hari Pendidikan Nasional

DARI total penduduk Indonesia yang kini diperkirakan mencapai 217 juta, hampir bisa dipastikan 70 juta lebih di antaranya adalah anak,-anak kategori usia di bawah 18 tahun. Sebagai anak, mereka memiliki berbagai hak yang wajib dipenuhi negara. Anak adalah sebuah anugerah, nikmat yang diberikan oleh tuhan kepada hambanya untuk meneruskan proses kehidupan yang selalu berputar di dunia ini.

Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah itulah sebaris potongan lagu dari mendiang maestro musik tanah air kita Alm. Chrisye yang menggambarkan tentang betapa indahnya masa-masa remaja berada disekolah. Namun di balik semua syair yang indah itu banyak anak-anak dan remaja di indonesia yang tidak dapat merasakan masa-masa yang paling indah itu. Kita sering melihat tubuh kecil yang letih di pinggir-pinggir jalanan, mereka yang hidup di kolong-kolong jembatan, mereka yang hidup di rumah-rumah kardus. Mereka yang harusnya berada di bangku-bangku sekolah untuk mengenyam pendidikan tetapi harus bergelut dengan kerasnya dunia ini dengan bekerja di jalan-jalan dengan menjajakan koran, mengamen, bahkan mengemis dari fajar menyingsing hingga gulitanya malam. mereka mengadu nasib hanya untuk mencari sesuap nasi bahkan untuk menghidupi keluarga, mereka tak ingat sekolah dan merekapun tak bisa berbuat apa-apa karena dililit oleh himpitan ekonomi yang memaksa mereka harus berbuat seperti itu, setiap hari mereka hanya terpanggang oleh terik matahari, mereka harus mengadu nasib di kota seperti di kota jogyakarta ini. sudah seharusnyalah kita memberikan harapan kepada anak-anak jalanan, mereka juga ingin menggapai cita-cita seperti kita semua. Mereka juga ingin merasakan bahagia dan merasakan manisnya masa kanak-kanak mereka seperti anak lainnya. Maraknya anak jalanan, adalah kisah memprihatinkan lain tentang buruknya kondisi anak Indonesia saat ini. Mereka tidak saja rentan terhadap tindakan eksploitasi, tetapi juga dalam banyak halnya sangat rentan menjadi pelaku tindak kekerasan.

Masalah anak di indonesia kini kian kompleks selain masalah anak jalanan kini perdagangan anak (child traficking) khususnya perdagangan anak di indonesia kini makin menjamur, banyak sekali anak-anak di bawah umur yang diperjualbelikan oleh para mafia penjualan anak. Banyak para gadis remaja yang diperdagangakan dan dipekerjakan sebagai penjaga-penjaga kafe, banyak balita-balita yang diperjual belikan bahkan sampai ke luar negeri. Hal tersebut terjadi karena adanya faktor himpitan ekonomi yang mendera kehidupan mereka.

Bahkan bagi segelintir orang, hal tersebut di jadikan sebagai alat bisnis, salah satu sindikat penjualan gadis remaja di daerah jakarta mempunyai seorang petugas yang disebut sebagai pencari bakat tugasnya adalah memburu mangsa gadis muda. Daerah miskin adalah sasaran empuk mereka, demi memuluskan memikat mangsa, mereka biasanya mengiming-imingi rupiah dan barang mewah, Biasanya korban tidak berdaya. Bila iming-iming itu mentok, maka alkohol lah menjadi salah satu senjata ampuh untuk memperdaya korban.dan lebih parah lagi jika sedang lagi kepepet malah ada orang tua yang menawarkan kegadisan anaknya kepada pencari bakat tersebut.

Itulah sebagian gambaran nasib anak bangsa ini, pendidikan orangtua yang rendah dan kemiskinan keluarga masih menjerat bangsa kita, hingga perlakuan yang salah, penelantaran anak hingga penjualan’ anak oleh orangtua untuk eksploitasi seksual komersial masih sering kita lihat dan dengar di media massa. Anak masih dianggap sebagai milik atau properti’orangtua yang dapat diatur arah hidupnya, hingga suara anak tentang aspirasinya atas masa depan hampir-hampir tidak pernah terdengar. Selain kemiskinan, berbagai faktor lain terjalin seperti benang kusut dan berkontribusi terhadap situasi sulit yg dialami anak-anak, diantaranya ketidakharmonisan dan disfungsi keluarga (termasuk masalah orangtua yang tidak bekerja), konsumerisme, materialisme, kesempatan pendidikan yang rendah dan sistem hukum Indonesia yang tidak adil bagi anak-anak.

Implikasi lain yang kemudian tak bisa dihindari, sebagian anak-anak Indonesia tergiring bekerja pada bidang yang mengganggu tumbuh kembangnya. Sebagian di antara mereka terpaksa jadi pembantu rumah tangga (PRT), sebagian yang lainnya bekerja di pabrik dengan beban kerja yang tidak layak dialami seorang anak. Jangan lupa, sebagiannya mungkin terpaksa dinikahkan pada usia yang masih sangat dini yang selama ini sering menjadi penyebab terjadinya banyak malapetaka reproduksi.

Masalah kesehatan yang mendera para anak bangsa ini pun sangat memprihatinkan, banyak anak-anak yang hidup dalam keadaan kekurangan gizi.Itulah wajah anak-anak negeri kita yang membutuhkan perhatian untuk meneruskan perjuangan hidup mereka dan untuk menggapai cita-cita yang diinginkan. Pemerintah harus lebih serius lagi dalam memperhatikan anak-anak bangsa ini karena mereka adalah agen-agen pembangunan masa depan bangsa ini .

Masalah pendidikan dan kesehatan adalah hal yang paling penting untuk diperhatikan oleh stake holdder yang ada baik dari pemerintah, sawsta, LSM, ataupun masyarakat. Karena dari semua itulah akan terbentuknya suatu manusia yang sehat dan cerdas karena salah satu kriteria masyarakat bangsa yang ideal untuk melanjutkan pembangunan bangsa ini adalah masyarakat yang memiliki jasmani yang sehat dan memiliki daya intelektual yang cukup sehingga mampu bersaing dengan negara-negara lain dalam era globalisasi

Itulah sebuah narasi menyedihkan mengenai nasib kehidupan salah satu segmen masyarakat yang selama ini masih cenderung terabaikan ; kehidupan sebagian anak Indonesia. Wujudnya, kini sebagian dari pemilik masa depan bangsa ini terancam tumbuh kembangnya lantaran mereka menderita kekurangan gizi. Sebagian lainnya tak memiliki masa depan lantaran mereka tak punya kesempatan meraih pendidikan, untuk tingkat dasar sekalipun. Bahkan sebagian lainnya bernasib lebih tragis lagi karena mereka lahir hanya untuk mati jika tidak dijadikan komoditas yang diperjualbelikan child trafficking.

Masalah kelangsungan pendidikan anak adalah persoalan pelik lain anak Indonesia saat ini. Bukan rahasia lagi bahwa saat ini masih ada jutaan anak sekolah di negeri ini terancam masa depannya karena mereka tidak mampu melanjutkan sekolah kalau bukan terpaksa harus meninggalkan bangku sekolah. Jangankan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, untuk bisa bertahan di tingkat pendidikan menengah sekalipun mereka tidak mampu.

Wujudnya, semua kebijakan dan program pembangunan yang akan dilakukan di negeri ini sejatinya dirumuskan berdasarkan kepekaan dan pertimbangan keberpihakan yang mampu membantu menyelamatkan mereka. Bukan malah sebaliknya, membuat kehidupan mereka kian terpinggirkan seperti yang masih banyak dilakukan selama ini

Fenomena anak yang beresiko ada sangat dekat dengan kita. Apa yang harus kita perbuat untuk mereka?

Sesuai KHA ( Konferensi PBB tentang hak anak ), semua anak, tanpa membedakan ras, suku, bangsa, agama, jenis kelamin, keturunan maupun bahasa memiliki empat hak dasar yaitu:

Pertama, hak atas kelangsungan hidup (survival) yang layak dan pelayanan kesehatan. Artinya anak-anak berhak mendapatkan gizi yang baik, tempat tinggal yang layak dan perawatan kesehatan bila jatuh sakit.

Kedua, hak untuk tumbuh dan berkembang (development). Termasuk di dalamnya hak untuk mendapatkan pendidikan, informasi, waktu luang, berkreasi seni dan budaya. Termasuk pula didalamnya hak asasi untuk anak cacat, dimana mereka berhak mendapatkan perlakuan dan pendidikan khusus.

Ketiga, hak untuk memperoleh perlindungan (protection). Termasuk di dalamnya adalah perlindungan dari segala bentuk eksploitasi, perlakuan kejam dan sewenang-wenang.

Keempat, hak untuk berpartisipasi (participation). Termasuk di dalamnya adalah hak kebebasan menyatakan pendapat, berserikat dan berkumpul serta ikut serta dalam pengambilan keputusan yang menyangkut atau mempengaruhi dirinya.

Anak juga membutuhkan kesejahteraan secara mendasar, yakni kesejahteraan psikologis, termasuk terpenuhinya kebutuhan rasa disayangi, rasa aman, perlindungan dan pengembangan diri. Bila hak anak-anak dipenuhi dengan efektif, maka anak akan terlepas dari eksploitasi. Namun pada siapakah kewajiban memberikan hak anak itu melekat? Orangtua, masyarakat, atau pemerintah ?

Dalam skala makro, persoalan menyangkut anak dan kesejahteraannya sangatlah rumit untuk dipecahkan. Perlu puluhan bahkan ratusan tahun lagi yang dibutuhkan negara kita untuk sampai pada situasi dimana tidak ada satupun anak Indonesia yang merasakan eksploitasi dan dapat hidup dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya. Namun alangkah baiknya bila kita bisa memulai mengubah persoalan menjadi tujuan hidup kita dalam skala kecil, yaitu mulai dari apa yang terlihat di sekeliling kita sebagai individual. Kalau kata AA gym mulailah dengan 3 M : mulai dari sekarang, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri.

Permasalahan anak yang saat ini terjadi di indonesia adalah permasalahan milik kita bersama, bukan hanya orang tua, masyarakat, ataupun pemerintah. Untuk itu marilah kita bangun bersama masa depan anak-anak bangsa ini dengan memperhatikan pendidikan dan kesehatan mereka karena masa depan bangsa ini ada pada pundak mereka. Jangan sampai bila kelak nanti republik ini harus dibangun tidak saja oleh generasi dengan IQ rendah, tetapi juga oleh sebuah generasi dengan predikat yang lebih memalukan lagi, generasi otak kosong yang dikarenakan kurang gizi dan minimnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para anak-anak penerus bangsa ini.

This entry was published on April 7, 2012 at 5:41 am. It’s filed under Torehan Jalanan and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: