Coretan Penghuni Jalanan

Peran Pendidikan Agama Dalam Pembentukan Tingkah Laku Anak Jalanan

Peran Pendidikan Agama Dalam Pembentukan Tingkah Laku Anak Jalanan
Masalah tingkah laku pada anak adalah sesuatu yang sulit dihindari,
namun setidaknya dapat diusahakan agar tidak terlalu besar sehingga
mempengaruhi kepribadian. Dan masalah tingkah laku ini bisa timbul karena
keadaan anak itu sendiri baik dari segi organis, fisiologis, maupun dari segi
konstitual pada aspek-aspek kepribadiannya yang meliputi aspek kognitif dan
karakterologis. Karena keadaan yang ada berkelainan, maka dalam perkembangan
selanjutnya perlu diarahkan baik secara sengaja, langsung, sistematis yakni prosespendidikan formal dan informal maupun secara tidak langsung melalui perbaikankualitas lingkungan hidup anak, khususnya lingkungan keluarga dan sosial.

Masalah tingkah laku juga bisa timbul karena proses perkembangan psikis
dan kepribadian anak tidak berlangsung baik. Interaksi antara dirinya-yang ada denganl ingkungan-yang mengembangkan-tidak terpadu secara harmonis atau
lingkungan sebagai sumber rangsangan dan penentu dalam perkembangan, telah
memberikan dan menentukan dengan keliru. Berbagai masalah tingkah laku pada
anak bisa timbul yang selanjutnya menjadi masalah pada anak itu sendiri, keluarga, masyarakat dan pemerintah.

Sehingga dapat ditegaskan kembali bahwa perilaku seseorang terbentuk
pada dua factor yaitu factor internal (berupa potensi diri) dan factor eksternal
(berupa lingkungan). Begitu juga dengan perilaku social anak jalanan yang
kebanyakan mereka adalah anak-anak yang hidup dijalanan yang jauh dari sebuah
kehidupan normal dan jauh dari aturan, sehingga secara tidak langsung perilaku
yang terbentuk dari diri anak jalanan cenderung negative, karena mereka kurang
bahkan bisa jadi mereka tidak pernah mendapatkan pembinaan yang mengarah
pada pembentukan perilaku yang baik.

Sesuai dengan pengertian pendidikan yang disampaikan oleh John Park
yang disebutkan diatas bahwa pendidikan adalah seni atau prose dalam
menyalurkan atau menerima pengetahuan atau kebiasaan-kebiasaan melalui
pengajaran dan studi, yaitu dengan pendidikan khususnya pendidikan agama
terjadi proses penyaluran pengetahuan tentang etika dan estetika dan juga
membiasakan anak-anak untuk selalu bertingkah laku dengan baik dan pada
akhirnya anak-anak mampu untuk mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,
dalam hal ini dijabarkan dalam tiga tingkatan sebagai berikut:

1. Tingkat Pemahaman (Kognitif)
Melalui pendidikan agama diharapkan anak mampu memahami nilainilai
yang terkandung dalam ajaran-ajaran agama. Untuk hal yang paling sederhana mereka bisa memahami atau mengidentifikasikan hal yang baik dan
yang buruk, mereka akan tahu perbuatan yang dosa, walaupun mungkin mereka belum bisa melaksanakan sepenuhnya, maka dalam hal ini anak jalanan harus diberi pengertian tentang amalan yang terpuji yang akhirnya nanti akan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Tingkat Sikap (Afektif)
Dengan dibekali pendidikan agama ataupun pendidikan umum lainnya
diharapkan mereka mampu untuk mengubah sikap dan menginternalisasikan
nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari menumbuhkan sifat
sabar dan tawakal kepada Allah. Setelah anak jalanan faham terhadap akhlak
yang baik atau buruk maka dari sini anak jalanan tersebut akan mampu
memilih atau menentukan akhlak yang sesuai dengan hati nuraninya.

3. Tingkat Pengalaman (Psikomotorik)
Lebih jauh lagi melalui proses pembinaan diharapkan anak jalanan
tidak hanya memahami sebuah nilai, akan tetapi juga mampu mengamalkan
melalui perbuatan. Bekal ilmu agama yang diperoleh diharapkan mampu
memberikan motivasi pada anak jalanan untuk melaksanakan ibadah, bekerja,
dengan semangat tinggi dan adanya kemauan untuk belajar.

Dan sebagai akhirnya untuk membimbing anak jalanan agar selalu
melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik, sikap sopan, menyayangi yang lebih muda, butuh binaan akhlak yang khusus dari bapak, ibu asuh atau semua
pengurus yang terkait dengan program rumah singgah tersebut atau yang
dalam penelitian ini adalah anggar alang-alang.

Jadi yang perlu diperhatikan dalam pembinaan tingkah laku bagi anak
jalanan adalah bimbingan dengan tujuan agar anak-anak dapat
mengidentifikasi atau mengetahui hal-hal yag baik dan yang buruk,
keteladanan dari pihak pengasuh sanggar alang-alang hal ini agar menjadi
contoh yang akan menjadi kebiasaan anak-anak jalanan dalam bertingkah
laku, sehingga terbentuk manusia yang berakhlaq mulia.
Karena anak-anak adalah bagaikan kertas putih yang tidak bernoda
maka orang dan lingkungnnya sosialnyalah yang membentuk, seperti dalam
hadis Rasulullah saw yang mengatakan bahwa;
Tiap orang dilahirkan membawa fitrah; ayah dan ibunyalah yang
menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (hadist riwayat Bukhari dan
Muslim).

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2179556-peran-pendidikan-agama-dalam-pembentukan/#ixzz1ro7G4UnN

This entry was published on April 12, 2012 at 7:12 am. It’s filed under Torehan Jalanan and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: