Coretan Penghuni Jalanan

Kelamnya Dunia Anak Jalanan

Jumlah anak jalanan terus meningkat. Mereka rentan menjadi korban pelanggaran HAM. Perlu upaya serius untuk melindungi hak-hak mereka.

Secara nasional, berdasarkan data Badan Kesejahteraan Sosial Nasional, peningkatan jumlah anak jalanan cu­kup tinggi. Jika sebelum krisis hanya sekitar 15%, setelah krisis tahun 1998 kenaikannya secara signifikan terus terjadi hingga mencapai 100% lebih. Sedangkan, Badan Pusat Statitik (BPS) memperlihatkan pada tahun 2006 jumlah anak Indonesia (usia 1-18 tahun) sebanyak 79,8 juta. Dari jumlah tersebut yang masuk kategori terlantar dan hampir terlantar mencapai 17,6 juta atau 22,14 persen (Suara Karya Online, 9 Februari 2010).

Faktor penyebab makin maraknya anak-anak jalanan sangat kompleks. Kemiskinan hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor. Keberadaan anak-anak jalanan berawal dari de­sakan ekonomi keluarga, diusir dari rumah, tidak sengaja terpisah dari orang tua, ditelantarkan oleh orang tua, dididik keluarganya untuk bekerja di jalanan, broken home, trafficking. Ada juga yang karena faktor kurangnya lapangan pekerjaan dan ketrampi­lan yang dimiliki, sehingga memaksa mereka bekerja di jalanan untuk bisa survive.

Yoseph Adi Prasetyo, wakil ketua bidang internal Komnas HAM dalam sambutan pembukaan FGD yang mengambil tema “Anak Jalanan: Sisi Kelam Persoalan Hak-Hak Anak” menyampaikan bahwa permasalahan yang dihadapi anak jalanan saat ini sangat kompleks. Bahkan saat ini per­soalan anak-anak jalanan yang bukan hanya di kota-kota besar, namun juga sudah merambah ke kota-kota kecil.

Anak-anak jalanan adalah korban dari sebuah sistem yang selama ini belum berpihak pada kebutuhan dan kepentingan anak-anak. Seperti yang diungkapkan oleh beberapa rumah singgah dan NGO pendamping anak jalanan dalam acara Focus Group Diss­cussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Komnas HAM pada Maret 2010. Anak-anak jalanan rentan menjadi korban, yaitu:

  1. Dari keluarga, mereka dipaksa be-kerja dijalanan untuk mem­bantu pereko­nomian keluarga sehingga tidak memiliki waktu untuk bermain;
  2. Kekerasan fisik dari orang tua, sesama anak jalanan, aparat pemerintah, dll;
  3. Kekerasan psi­kologis (diben­tak, dicaci-maki) oleh orang tua, sesama teman jalanan, teman sekolah, masyarakat ataupun aparat pemerin­tah;
  4. Tidak ada jaminan atas akses pemenuhan dan perlindungan hak-hak dasar anak, terutama pada aspek kesehatan, pendidikan dan keberlangsungan hidup;
  5. Anak jalanan selalu diidentikkan dengan premanisme atau anak nakal, bahkan dijadikan alat untuk melakukan kejahatan;

Di sisi lain, akses anak-anak jalanan pada jaminan kesehatan, perlindungan dari kekerasan, jaminan pendidikan, jaminan kelangsungan hidup yang lebih baik, belum mendapat perhatian yang benar-benar oleh berbagai pihak. Penyelesaian persoalan pelanggaran hak anak yang dialami anak-anak jalanan masih sangat parsial dan kasuistis. Bahkan, anak-anak tersebut menjadi korban kedua kalinya atau lebih oleh pihak-pihak yang “mengaku” sebagai pelindung bagi mereka, baik oleh keluarga, masyarakat bahkan aparat pemerintah sendiri.

Agar anak jalan­an tidak terus men­jadi korban maka perlu ada upaya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan terhadap hak-hak mereka. Upaya tersebut akan berjalan efektif bila melibatkan semuastake holder yang terlibat: terutama negara sebagai pemangku kewa­jiban HAM. Apalagi hak-hak anak-anak telah tercantum jelas di berbagai aturan. Dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM, Kon­vensi Hak Anak, Konvensi Hak ECOSOB maupun UU No. 23 tahun 2002 ten­tang Perlindungan Anak menegaskan bahwa orang tua, keluarga, masyara­kat, pemerintah, dan negara wajib menjamin, melindungi dan memenuhi hak-hak anak di semua aspek kehidu­pan. Dan, Komnas HAM sesuai dengan fungsinya akan terus mengingatkan negara untuk memenuhi kewajibannya dan mengajak elemen lain yang ada di masyarakat untuk menghormati, me­lindungi, dan memenuhi hak-hak anak, terutama anak jalanan agar mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, sehat, dan benar.

This entry was published on April 13, 2012 at 3:02 am. It’s filed under Potret Kelam and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: