Coretan Penghuni Jalanan

Mendidik Anak Jalanan

Image

Lonjakan anak jalanan semakin tak terkendali di setiap daerah. Tak ayal, tiap kota hanya dijejali kaum pengemis dan anak yang ditelantarkan orang tua atau sengaja menelantarkan diri. Tak hanya keterbatasan ekonomi yang mendasari lonjakan tersebut, tapi keterbatasan mental seseorang dalam ruang kehidupan juga turut menjadi penyebab. Sekolah sudah tidak menjamin mereka kembali ke pangkuan ibu pertiwi yang memelihara seperti di peraturan perundang-undangan. Selanjutnya, pemerintah juga tidak peduli yang berlanjut pengebirian mereka terhadap dunia pendidikan. Lengkaplah sudah nasib penerus bangsa ini.

Anak jalanan dianggap sebagai sampah yang berjalan di perempatan-perempatan kota karena keberadaannya mengganggu pemandangan. Bahkan ada tindakan represif yang masih dilakukan pihak berwajib, menangkap dan membawa secara paksa ke dinas sosial setempat. Banyak juga yang mendapat pelecehan seksual di jalanan. Anak jalanan seakan menjadi buronan melebihi para koruptor yang harus diseret di tengah-tengah keramaian kota. Padahal sebenarnya mereka hanya membutuhkan pendidikan continu yang gratis dan tidak takut lagi dengan kekerasan yang menimpa selama ini.

Problem sosial ekonomi yang menyandra para anak jalanan harus dipahami sebagai masukan untuk dunia pendidikan yang kini tak lagi terjangkau bagi mereka. Buktiya, rata-rata mereka sudah tercatat sebagai siswa di satu intitusi pendidikan, tapi karena benturan ekonomi yakni memenuhi kebutuhan sekolah tak mencukupi, akhirnya mereka putus sekolah dan memilih bekerja untuk membantu orang tua. Tak hanya itu, hanya untuk memenuhi kebutuhan baju sekolah saja mereka tak cukup, apalagi membiayai kebutuhan sehari-hari untuk sekolah.

Membaca berita di kolom Kudus “Rp 4 Miliar untuk Wajar 12 Tahun” (Suara Merdeka, 6/11) rasanya tak bisa membayangkan kenapa anak jalanan masih belum berminat untuk kembali bersekolah, padahal uang sebanyak itu tak lain untuk membiayai pendidikan mereka.

Ada beberapa alasan yang mendasari sikap tersebut. Pertama, sekolah-sekolah di Kudus belum sepenuhnya membebaskan biaya pendidikan Wajar. Kedua, dilema pendidikan yang tak bisa mendukung mereka bisa meraih pekerjaan secara nyata. Ketiga, keyakinan diri sendiri atas takdir sebagai anak jalanan.

Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dikucurkan pemerintah pusat untuk pendidikan gratis belum sepenuhnya mengena pada tiap siswa. Umumnya, dana BOS habis untuk biaya operasional penyelenggaraan pendidikan, bukan untuk biaya pengganti sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP). Di lain pihak, ada yang mengganti kewajiban SPP dengan sumbangan wajib tiap bulan untuk pembangunan gedung yang nilai rupiahnya memang di bawah SPP. Akhirnya, siswa dipaksa untuk memenuhi beban tersebut. Jika mereka tidak bisa memenuhi kewajiban tersebut, maka yang terjadi, mereka akan putus dan tak ingin kembali ke sekolah.

Pendidikan yang selama ini diharapkan akan memberikan mereka pekerjaan tak kunjung terealisasi. Apalagi, tak banyak pula yang bisa merubah kehidupan ekonomi mereka. Pendidikan hanya akan menjerumuskan mereka ke lembah kemiskinan tanpa ada pihak yang menolong.

Problem paradigma berpikir karena cemoohan sebagai anak jalanan yang kemudian mendarahdaging dalam benak tiap anak menjadi penyebab mereka tak ingin lagi bersekolah. Keyakinan yang terjadi dalam jiwa seseorang tersebut akan dianggap sebagai sebuah kebenaran. Determinasi lingkungan inilah sebagai bagian yang kemudian membentuk paradigma sebagai anak jalanan. Karena determinasi lingkungan diartikan sebagai penyalahan terhadap lingkungannya bila saja mendapatkan stimulus yang berpengaruh buruk terhadapnya (Pitoyo Amrih, 2008). Buruk dalam tataran ini akan dianggap sebagai kebenaran jika sudah terpatri pada sebuah keyakinan.

Sekolah Khusus

Image

Sehingga perlu adanya sikap nyata dari pemerintah kabupaten untuk menghidupi pendidikan anak jalanan. Sekolah khusus untuk anak jalanan adalah sikap tanggung jawab pemerintah dalam agenda mengentaskan kemiskinan. Kemiskinan yang berasal dari kurangnya dukungan pendidikan secara penuh dari pemerintah akan didapat dalam sekolah ini. Karena seluruh teknik dan biaya penyelenggaraan pendidikan dalam sekolah ini diatur oleh pemerintah sendiri. Sekolah khusus ini yang akan dihuni anak jalanan dan anak-anak terlantar, karena mereka juga anak bangsa yang harus dilindungi dan diberikan hak-haknya dalam pendidikan.

Sekolah khusus tidak hanya bertujuan untuk mengembalikan pendidikan mereka yang selama ini dirampas, juga untuk mengembalikan kepercayaan mereka sebagai anak jalanan pada masyarakat terdidik. Pergaulan yang ada di sekolahan umum tidak hanya akan membuka lembaran dilema, kemiskinan, keterbelakangan dan cemoohan. Sekolah khusus ini akan mengantarkan mereka kepada puncak refleksi sebagai anak jalanan yang terdidik dan tak jarang mereka juga menorehkan prestasi gemilang.

Anggapan adanya kelas dalam pendidikan juga akan sirna dengan sendirinya ketika sekolahan khusus untuk anak jalanan ini terealisasi. Karena di sekolahan tersebut semuanya adalah anak jalanan dan kelas ekonominya relatif sama. Sehingga tidak ada permasalahan psikologis pada tiap siswa untuk belajar dan bersosial. Kesadaran ini yang mengantar anak jalanan semakin mempercayai pendidikan sebagai bagian dari pengentasan kemiskinan.

Menurut Audifax dalam buku Filosofi Jiwa (2008) menegaskan bahwa kesadaran memiliki akar kata conscious dari cons-scio yang artinya aku tahu (sesuatu). Kesadaran adalah inisiasi pengguna-tanda ke dalam dunia-tanda oleh pemberi-tanda. Artinya penyematan anak jalanan dari diri seorang anak jalanan menjadi kesadaran yang akan menguburkan semua impian mereka, begitu sebaliknya. 

Image

Keterampilan

Kemiskinan yang mendera anak jalanan harus disikapi secara arif. Keterbatasan ekonomi yang menyebabkan mandegnya proses pendidikan harus dijadikan pelajaran dan evaluasi bagi pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan yang dibutuhkan untuk menopang ekonomi secara nyata. Pendidikan ketrampilan yang dibutuhkan dunia kerja menjadi salah satu solusi arif. Ketrampilan menjadi kebutuhan mendasar untuk merubah nasib mereka.

Gagasan sekolah khusus yang ada muatan lokal ketrampilan harus segera direalisasikan jika tak ingin anak jalanan semakin sesak memnuhi perempatan-perempatan kota. Karena sebatas anak jalanan masih menganggap pekerjaan mereka meminta-minta di jalanan sangat menguntungkan bila dibandingkan sekolah yang hanya akan menghabiskan uang. Jika anak jalanan dibekali ketrampilan khusus dalam dunia usaha, maka yang terjadi akan mengubah paradigma mereka tentang wajah pendidikan yang selama ini berlangsung. Semoga!

Hasil Kreasi Keterampilan Anjal Rangkah Save Street Child SurabayaImageImage


This entry was published on May 11, 2012 at 6:46 am. It’s filed under pendidikan, Torehan Jalanan and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: