Coretan Penghuni Jalanan

Anak Jalanan & Rakyat Marjinal

Kota membutuhkan masyarakat miskin. Ungkapan tersebut cukup membuat masyarakat miskin mendapat tempat untuk bisa hidup, bertahan, hingga mencari kesuksesan di kota. Bahkan di kota metropolitan sekalipun. Di mana ada kota tumbuh dan maju, di situ pasti ada masyarakat miskin. Mereka tinggal di daerah pinggiran, rumah liar, pemukiman kumuh dan banyak persoalan sosial.
Keberadaan masyarakat miskin tersebut di sisi lain memang dibutuhkan, bahkan justru membuat kehidupan kota semakin bergerak dinamis. Bayangkan bila di sebuah kota yang hanya diisi orang kaya, kaum borjuis, dan pemilik modal, maka siapa yang akan menjadi pekerja? Maka akan timbul persoalan dimana-mana.

Cuma yang menjadi persoalan, dan ini menjadi perbedaan dengan kota di negara-negara maju, adalah soal jumlah masyarakat miskin. Di negara maju, jumlah penduduk miskin hanya sebagian kecil. Sementara di negara kita yang masuk negara sedang berkembang (development country), jumlah penduduk miskin sangat besar. Inilah menjadi personalan terbesar, bagaimana mengurangi kemiskinan.

Di kota hidup beragam manusia dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Status ekonomi yang berbeda. Ada yang memiliki modal dan usaha serta menguasai roda perekonomian. Ada kalangan menengah yang umumnya bekerja di sektor formal. Dan ada kalangan bawah yang umumnya bekerja di nonformal. Sekian persen dari masyarakat bawah yang kalangan yang tidak beruntung inilah yang menjadi masyarakat miskin kota. Mereka bekerja melakukan berbagai pekerjaan dengan gaji atau pendapatan yang kecil. Tidak sanggup menghidup keluarganya sehingga seluruh anggota keluarga sampai anaknya juga dilibatkan untuk membantu.

Yang biasanya terjadi di masyarakat kita adalah miskin turun temurun. Padahal miskin bukan penyakit keturunan. Kemiskinan adalah persoalan sikap, pemikiran yang dan etos kerja. Sikap yang tidak mendukung, pemikiran yang terbelakang, etos kerja yang tidak ada atau pemalas. Miskin karena semuanya atau salah satunya tidak dipunyai.

Maka dengan kondisi masyaralat kita seperti itu maka jangan heran yang banyak muncul belakangan di sepanjang jalanan kota adalah fenomena maraknya anak jalanan atau pekerja anak di jalanan. Mereka bekerja sebagai pengemis, pengecer koran, tukang semir sepatu, pengamen. Anak-anak tersebut berasal dari keluarga-keluarga miskin yang biasanya hidup di kantong-kantong kemiskinan, daerah kumuh, rumah liar.

Kebanyakan anak-anak tersebut tidak sekolah. Ada beberapa yang sekolah dan itupun keadaannya terancam putus  sekolah. Baik karena tidak adanya biaya, maupun daya tarik lingkungan jalanan terhadap anak-anak yang membuat mereka semakin lama semakin betah di jalanan. Niat membantu orangtua dan uang yang didapat dijalanan semakin meredam semangatnya untuk mengenyam pendidikan.

Beberapa anak dipaksa oleh orangtuanya untuk mencari rupiah di jalanan. Ada juga orangtua miskin yang turun ke jalanan dengan menjadikan anaknya yang masih bayi dan balita sebagai pemancing rasa iba pengguna jalan. Dengan rasa kasihan, semakin banyak yang bersedekah, semakin banyak yang membeli koran atau lainnya. Bahkan ada juga yang jualan koran sebagai tameng, namun sebenarnya adalah pengemis. Karena dengan ngemis lebih banyak dapat uang.

Di Surabaya dan kota besar lainnya terdapat beberapa kantong kemiskinan.

Ciri-ciri daerah yang dihuni masyarakat miskin ini adalah pemukiman yang tidak tertata, kumuh, tidak ada fasilitas umum, tidak memiliki sanitasi yang sehat, sumber air bersih yang sulit dan terbatas. Anak-anaknya banyak yang tidak sekolah dan putus sekolah. Rawan kejahatan dan lain sebagainya.

Momentum Bebas Anak Jalanan

Kasus pedofilia yang terjadi di Jakarta, Surabaya beberapa tahun yang lalu dan menghebohkan Indonesia baru-baru ini merupakan momentum yang baik untuk mengurangi, bahkan meniadakan anak jalanan dan pekerja anak di jalanan. Mereka dilarang turun ke jalanan karena jalanan rentan dan berbahaya. Banyak hak-hak mereka dirampas. Padahal untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, hak-hak mereka harus diberikan. Mereka  juga butuh lingkungan yang kondusif.

Momentum ini sejalan dengan program pemerintah pusat mewujudkan Indonesia bebas anak jalanan. Lalu bagaimana mengatasinya masyarakat miskin dan anak jalanan ini? Mengurangi kemiskinan tetap harus jalan seiring dengan visi, misi dan program pemerintah baik provinsi maupun kota/kabupaten. Jumlah masyarakat miskin harus dikurangi secara bertahap. Program pengetasan kemiskinan tersebut harus tepat sasaran sehingga ada peningkatan kesejahteraan, dari masyarakat miskin menjadi masyarakat yang tidak lagi miskin. Ada peningkatan kualitas kehidupan, peningkatan pendidikan sehingga banyaknya anak-anak miskin yang bisa bersekolah.

Untuk anak-anak warga miskin tidak harus berada di jalanan sepanjang hidupnya. Mereka mempunyai cita-cita yang akan dapat mengubah hidupnya lebih baik. Itu bisa dilakukan bila mereka tetap bersekolah atau mendapatkan pendidikan. Hanya dengan pendidikan, mereka bisa berubah dan bisa menjadi lebih baik.

Bagi yang sekolah tetap semangat sekolah, jangan berhenti karena godaan jalanan. Pemerintah harus memberikan pendidikan gratis kepada mereka sehingga anak-anak jalanan itu tidak mesti mengemis atau menjual koran dulu agar bisa sekolah.

Yang tidak bisa sekolah formal, mereka masih bisa mendapatkan pendidikan non formal. Dengan mendirikan rumah singgah, mereka bisa mendapatkan pendidikan dan keterampilan. Sudah ada pihak LSM yang sudah memulai dengan mendirikan rumah sejahtera untuk mendidik anak-anak yang tidak sekolah di beberapa daerah kantong miskin. Intinya tidak alasan bagi anak-anak jalanan untuk tidak sekolah, karena pendidikan adalah hak setiap anak Indonesia.

Jika program pengentasan kemiskinan sukses, pendidikan sudah merata maka pemerintah ikut merasakan manfaatnya. Beban subsidi pemerintah bisa dikurangi, kualitas SDM meningkat, angka kriminal berkurang, investor semakin banyak, pendapatan daerah meningkat dan lain sebagainya. Jika sudah seperti itu, jangan merasa takut terganggu keseimbangan kota dengan berkurangnya masyarakat miskin. Justru sebaliknya, semakin menguntungkan.

We Care To Share Kalau Bukan, Kita Siapa Lagi ? Kalau Bukan, Sekarang Kapan Lagi ?

This entry was published on May 18, 2012 at 9:56 am. It’s filed under Realitas Jalanan, Torehan Jalanan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: