Coretan Penghuni Jalanan

Mereka Diharuskan Turun Ke Jalanan

Sore itu di salah satu jalanan protokol di Surabaya Utara, kulihat bocah laki-laki cilik berwajah kusam berdebu dengan langkah perlahan menyusuri setiap jalanan, berbekal alat pengais sampah bekas dan kantong plastik besar melaju diantara debu jalanan, terlihat wajah muram yang menggoreskan luka teramat mendalam, usianya terbilang masih belia kira-kira usia sekolah dasar, 12 tahun. Suatu usia dimana menghabiskan waktu bermain dan belajar bersama teman-teman sebayanya, dia mengenakan topi lusuh bercorak kecoklatan, terlihat jelas bahwa dia mempunyai mimpi tapi mimpi itu seakan sengaja dipendam.

Sungguh ironis melihat kenyataan generasi penerus bangsa ini nantinya, harus berkutat di atas jalanan. bekerja dibawah usia anak-anak, dan satu hal lagi tanpa mempertimbangkan masa depan mereka kedepan, hanya mengharap kehidupan esok lebih baik dari hari sebelumnya. Kondisi ini diperparah bila kita melihat jajaran sendi pemerintahan seakan-akan enggan melongok jauh ke dalam, bahwa banyak sekali ditemui di sudut-sudut gang sempit terlihat anak-anak terpaksa putus sekolah yang beralih profesi sebagai buruh atau pekerja kasar harian.

Perkembangan kota di segala bidang tampaknya tidak hanya memberikan nuansa positif bagi kehidupan masyarakat. Namun juga melahirkan persaingan hidup, sehingga muncul fenomena kehidupan yang berujung pada kemiskinan.

Kota yang padat penduduk dan banyaknya keluarga yang bermasalah telah membuat makin banyaknya anak yang kurang gizi, kurang perhatian, kurang pendidikan, kurang kasih sayang dan kehangatan jiwa, serta kehilangan hak untuk bermain, bergembira, bermasyarakat dan hidup merdeka. Bahkan banyak kasus yang menunjukkan meningkatnya penganiayaan terhadap anak-anak, mulai tekanan batin, kekerasan fisik, hingga pelecehan seksual, baik oleh keluarga sendiri, teman, maupun orang lain.

Nah itulah segelintir permasalahan yang sebenarnya perlu dikaji, sebuah permasalahan sosial yang sangat krusial, mengingat angka tumbuhnya anak jalanan semakin tahun semakin bertambah, belum lagi Pemerintah, dimana dinas sosial terkait seolah-olah menutup mata, bahkan tak sedikit diantara mereka menutup telinga mereka rapat-rapat, menyikapi kejadian hal semacam ini, bahkan ada wacana dari Pemerintah bahwa di tahun 2014 Indonesia akan terbebas dari Anak Jalanan ? sebuah wacana yang menurut saya pribadi, tidak relevan dan kurang efektif, dengan bermodalkan tabungan anak jalanan sebesar 2,5 Juta mereka dipaksa angkat kaki dari jalanan. Entah tabungan tersebut dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik atau tidak, nah itu perlu kiranya menjadi landasan pertanyaannya ?

Seperti yang kita ketahui bersama secara psikologis dalam pribadi anak jalanan itu berbeda sekali dengan kehidupan dan karakter kita sebagai masyarakat awam, bukannya bermaksud untuk memperbandingkan strata sosial, tapi hanya saja ya itu lah anak jalanan yang hidup bebas di luar tanpa ada kontrol dan pengawasan dari orang terdekat, yang ditakutkan adalah dalam memanage atau mengelola tabungan tersebut, apakah memang nantinya uang tersebut dipergunakan sebagaimana mestinya, atau malah sebaliknya ? misalnya tabungan tersebut dapat dialokasikan sebagai modal usaha, membuka lapangan pekerjaan kecil-kecilan. Besar harapan saya semoga tabungan tersebut tepat sasaran, tidak masuk ke kantong-kantong pribadi oknum-oknum yang tak bertanggung jawab.

Berbicara anak jalanan dan masyarakat marjinal memang tidak ada habisnya, banyak sekali faktor yang melatarbelakangi mereka turun ke jalanan, kemiskinan lah yang selalu dijadikan kambing hitam, yang menyebabkan mereka turun ke jalanan. Anak- anak yang dibimbing di rumah singgah setelah keluar tak jarang yang kembali lagi ke jalanan. Fenomena ini seringkali terjadi walaupun pihak rumah singgah telah memberikan sekolah gratis, makanan gratis dan atap untuk berlindung bagi mereka. Mengapa hal ini terjadi ? Karena uang. Di jalanan, mereka dengan gampang bisa memperoleh uang, yang biasanya minimum mencapai Rp. 20.000 per hari. Berarti dalam sebulan mereka bisa memperoleh paling tidak Rp. 600.000. Jumlah ini tentu saja relatif cukup besar bagi seorang anak di bawah umur 18 tahun dan hidup di jalanan

Beberapa permasalahan dimana salah satu faktor pendorong munculnya anak jalanan adalah adanya dorongan dari orang tua kepada anak untuk mencari nafkah sehingga pemberdayaan kepada orang tua merupakan program yang akan dilakukan.Pemerintah telah membebaskan biaya untuk masuk sekolah namun kebutuhan pendukung lainnya seperti buku dan seragam sekolah masih memberatkan para orang tua. “Hal ini yang menjadikan munculnya anak jalanan dikalangan warga miskin

Permasalahan ini tidak hanya terjadi di Jakarta namun juga di seluruh daerah di Indonesia. “Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat memiliki jumlah anak jalanan yang signifikan sekitar 20 persen dari jumlah anak terlantar. Pada 2010 jumlah anak jalanan yang menjadi binaan Kemensos sebanyak empat persen dari 5.4 jumlah anak terlantar atau sekitar 160 ribu anak jalanan. Rencananya setiap tahun Kemensos akan membina 50 ribu anak jalanan hingga 2014.

This entry was published on June 16, 2012 at 7:48 pm. It’s filed under Opini Jalanan, pendidikan and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: