Coretan Penghuni Jalanan

Janji Pendidikan Untuk Mereka Tinggal Janji Belaka

Jika kalian berada di jalan-jalan entah itu sedang dalam posisi berkendara atau sedang bepergian ke suatu tempat, pernah kah kalian melihat ada individu atau pun sekelompok anak-anak yang melakukan segala aktivitas mulai dari ngamen, berjualan asongan, di sudut lampu merah atau jalanan protokol ? saya yakin anda pernah atau bahkan mungkin sering melihat sekumpulan mereka, ya itu lah realita yang terjadi di lapangan sesungguhnya. Berkeliaran di jalan. Tanpa aturan. Inilah potret sebagian anak Indonesia. Mereka tidak seharusnya di jalan. Tapi, semua terpaksa dilakukan. Mengais rezeki, sesuatu yang seharusnya tak menjadi tanggung jawab mereka. Kemiskinan memang menjadi faktor utama yang mendorong para orangtua tega melepaskan anaknya jadi pekerja di jalanan.

Tahukah kalian ! bahwa anak-anak yang suka hidup di jalan itu ada saja bahaya yang mengintai, bahayanya sangat berpotensi besar, salah satunya adalah  intimidasi yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab, contoh kecilnya adalah preman yang meminta jatah kepada mereka anak jalanan, alasannya untuk keamanan, biasanya dalam bentuk materi secara langsung, harus menyetorkan uang sekian-sekian, sebagai dalih perlindungan keamanan, apabila tidak memberi jatah kepada preman artinya anak-anak tersebut itu harus siap menghadapi kemungkinan hal terburuk karena menolak royalti keamanan secara terang-terangan, ini dilakukan secara terorganisir dan tertutup rapi.

Di setiap wilayah atau area misalnya lampu merah perkotaan itu tak jarang ada sebagian oknum yang menyalah gunakannya sebagai lahan penghasilan untuk mengeruk keuntungan pribadi semata, bisa kalian bayangkan berapa banyak penghasilan yang ia dapatkan dalam sehari ? jika ia mematok uang kepada anak-anak jalanan tersebut, katakan lah dalam sehari ada 15 anak harus membayar 5.000 setiap individu. Tugasnya hanya satu mengawasi setiap gerak-gerik anak-anak yang bekerja di lampu merah atau sekedar ngamen, ini namanya eksploitasi anak berlebih, memanfaatkan tenaga anak-anak untuk dijadikan ladang penghasilan yang ideal.

Nah adapun yang kedua adalah bahaya yang acap kali menghantui anak-anak jalan tersebut ialah kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang yang jauh lebih dewasa dari rata-rata usianya, bahkan untuk kemungkinan mengalami tindak pelecehan seksual, seperti sodomi yang berujung kematian, yang menggemparkan tahun lalu, itu sangat terbuka lebar. Dengan adanya anak berada di jalanan, sebenarnya anak terekspos bahaya. Bahaya yang terkadang bagi sebagian penilaian orang tidak ada apa-apanya. Namun kalau kita sadari dan pikirkan dengan jernih itu sangat menganggu di pikiran kita, coba anda pikirkan jika kejadian hal semacam itu terjadi atau menimpa pada diri anda sendiri, apakah anda mau diperlakukan demikian ! tentunya bagi orang waras pun jelas sekali menolak.

Nasib anak-anak Indonesia tampaknya masih terus terpinggirkan, tergerus dalam roda kehidupan. Sedikit mengutip dari sumber internet dari Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat jumlah anak jalanan terus meningkat. Data Departemen Sosial menunjukkan hampir empat juta anak Indonesia telantar, 160 ribu di antaranya hidup di jalan. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementrian Sosial terbaru menyatakan pada 25 Agustus 2011 ada sekitar 23.000 anak jalanan yang tersebar baik yang putus sekolah maupun belum sama sekali mengenyam pendidikan formal.

Sungguh ironis dan memprihatinkan apabila calon penerus bangsa Indonesia ke depannya tidak bersekolah ! jangan heran kalau sumber daya manusia (SDM) tidak memadai. Negara ini merdeka tahun 1945 tepat 66 tahun yang lalu negara ini telah menegakkan di bumi pertiwi, lucunya lagi kenapa Pemerintah terkesan tidak serius menangani permasalahan klasik ini ! harapan hanya tinggal harapan tanpa ada suatu wujud nyata. Kali ini saya akan menyoroti jargon Pemerintah  yang selama ini di gadang-gadang mengenai  program pendidikan wajib 9 tahun, tak terhitung berapa banyak korban ketidak adilan kebijakan pemerintah yang tak merata, bahkan tak sedikit yang tidak tepat sasaran program pendidikan tersebut.

Coba tengok negara yang katanya serumpun dengan kita negara Malaysia, kalau saya lihat dari kacamata saya sistem pendidikan disana relatif jauh lebih maju dibanding dengan negara kita yang masih dalam taraf mengenal huruf alfabet, mengeja huruf-huruf dan berhitung. Lain halnya dengan wajah pendidikan Eropa, pernah suatu ketika saya melihat berita di salah satu televisi swasta secara terang-terangan menyebutkan bahwa di negara Finlandia, yang jauh dari pelupuk mata di daratan Eropa sana, biaya pendidikan dijamin sepenuhnya gratis oleh Pemerintah sana, sama sekali tidak dipungut uang sepeser pun kepada warga negaranya sampai jenjang perguruan tinggi. Tapi hanya saja pemerintah disana membebankan pajak yang tinggi terhadap rakyatnya kemudian dialokasikan ke pendidikan. Bagaimana dengan Indonesia sendiri !

Bagaimana kita bisa menjadi negara yang maju di mata dunia, kalau pendidikan saja dipandang sebelah mata atau remeh, kemiskinan menjadi permasalahan utama mereka yang tak mampu memperoleh pendidikan secara layak. Sedangkan pendidikan sendiri yang menjadi tonggak utama pembuka jalan menuju jalan mencerdaskan kehidupan bangsa. Setidaknya sebagai penerang jalan kegelapan menuju kehidupan yang lebih layak.

Anggaran biaya pendidikan yang digelontorkan pemerintah tidak sedikit jumlahnya mencapai triliunan rupiah, tapi tetap saja tidak dapat menutupi perbaikan di Indonesia. Apa yang terjadi sebenarnya ? hanya Tuhan juga lah Yang Maha Mengetahui, Program keringanan pendidikan BOS dinilai tidak transparan, tak menyentuh semua lini lapisan masyarakat kelas bawah, malah menjadi sarana bagi-bagi uang jatah alias banca’an orang jawa bilang tapi hanya saja ini dalam bentuk uang lembaran rupiah, bagi para penguasa yang mementingkan kepentingan pribadi, semoga saja penguasa yang memegang tampuk kekuasaan tidak gelap mata, dan segera menyadari hal ini.

Surabaya, 18 Juni 2012 

This entry was published on June 18, 2012 at 12:09 pm. It’s filed under Opini Jalanan, pendidikan and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: