Coretan Penghuni Jalanan

Peningkatan Jumlah Volume Anjal Surabaya

Fenomena merebaknya anak jalanan di Indonesia termasuk di Kota Surabaya merupakan persoalan sosial yang multidimensional. Hidup di jalanan memang bukan pilihan yang menyenangkan, karena anak berada di dalam kondisi yang tidak bermasa depan jelas, dan keberadaan mereka tak jarang menimbulkan “masalah” bagi banyak pihak, keluarga, masyarakat, dan negara. Sayangnya, perhatian terhadap permasalahan anak jalanan tampak belum begitu besar dan solutif. Meskipun telah ada seperangkat aturan yang menjadi kerangka upaya perlindungan hak-hak anak termasuk anak jalanan  yaitu UU No. 6/1974 tentang ketentuan pokok Kesejahteraan Sosial, UU Mo 4/1979 tentang kesejahteraan anak dan tentang UU No. 23/2002 tentang perlindungan anak.

Figur Anak Jalanan di Kota Surabaya

Anak Jalanan di Surabaya menunjukkan dari tahun ke tahun terdapat peningkatan jumlah anak jalanan. Jumlah anak jalanan dari tahun 2001-2004 tahun 2001 mencapai 1.441 anak jalanan, tahun 2002 terhitung ada 1.852 anak jalanan, tahun 2003 mencapai 2.310 anjal, tahun 2004 mencapai 2.417 anjal. Tren kenaikan anak jalanan di Surabaya menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas penananganan anak jalanan di Surabaya. Dari data Dinas Sosial mencatat bahwa di tahun 2003 dari 2.310 anak jalanan tersebut 1.797 anak jalanan ialah laki-laki dan sisanya 541 anak adalah berjenis kelamin perempuan.

Dari segi umur paling dominan seorang anak turun ke jalan adalah 12-16 tahun (1.511 atau anak 65,5 persen sementara itu yang sangat memprihatinkan adalah cukup signifikannya anak jalanan berusia 0-5 tahun (84 anak atau 3,6%)anak jalanan di surabaya berdasarkan umur di tahun 2003  0-5 tahun jumlah 84 anak presentase 3,6, usia 12-16 tahun mencapai 1.511 anak presentase 65,5 dan 16-18 tahun terhitung mencapai 715 anak dengan presentase 30,9.

Adapun penyebaran anak jalanan terbesar ditemukan di perempatan jalan (1.496 anak atau 64,8%) terminal sebanyak 377 anak (16,3%), stasiun sebanyak 164 anak (7,1%), serta di makam sebanyak 162 anak (7%). Sebaran ini, terbesar berad a di tujuh kecamatan, yaitu kecamatan Wonokromo jumlah 260 anak presentase 11,3. Tegal Sari mencapai jumlah 246 anak presentase 10,6. Sawahan 201 presentase 8,7. Gubeng jumlah anak jalanan 169 presentase 7,3. Krembangan jumlah anjal 149 presentase 6,5. Tenggilis Mejoyo jumlah 126 presentase 5,5. Simokerto jumlah 124 presentase 5,4.

Adapun jenis kegiatan dan aktivitas anak jalanan ialah sebagai berikut pengamen presentase 54,5 menempati urutan pertama, pengemis 7,6 atau pekerjaan pengasong, pedagang, pemulung mencapai 35,6. Psk Anak 1. Berkeliaran 1,3.

Jelas sekali bahwa sebagian besar anak turun ke jalanan adalah untuk bekerja (mencari uang), sementara sebagian kecil dari mereka (1,3%) yang hanya berkeliaran.

This entry was published on June 20, 2012 at 8:01 am. It’s filed under Eksploitasi Anak, Opini Jalanan and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: