Coretan Penghuni Jalanan

Akses Pendidikan Tidak Menyentuh Anak Jalanan

Ilustrasi Foto

Terlihat sosok bocah kecil laki-laki di perempatan jalan protokol Dharmawangsa, Surabaya usainya masih tergolong masih anak-anak, kelihatannya masih mengenyam pendidikan sekolah dasar, ditengah lalu lalang padatnya kendaraan, tampak anak itu mencoba menjual koran pagi yang tak laku dijual kepada setiap pengendara yang melintasi jalan tersebut, sungguh ironis memang di usia yang relatif sangat belia harus rela menyisahkan waktu untuk sekedar bekerja di jalanan, malam itu kira-kira pukul 22.00 WIB, saya mencoba menghampiri anak kecil itu, sambil meminggirkan motor di tepi median jalan, wajahnya sumringah ketika ada seseorang mencoba memanggilnya, meskipun awalnya saya tidak tahu nama mereka, dari mana mereka berasal, motivasi mereka untuk turun ke jalan.

Mendengar ada sesorang yang memanggil dirinya, seketika anak itu merespon dengan menghampiri saya, wajahnya begitu berseri-seri seolah-olah tanpa beban sedikitpun yang dipikulnya. Tangan kecilnya, membawa koran yang belum laku terjual, kulihat masih banyak koran yang belum laku. saya mencoba menanyakan keberadaan teman-teman anak tersebut, baru seketika dia menunjuk kalau teman-temanya sedang berjualan juga di seberang jalan, tak jauh dari lampu merah Darmawangsa. Tak perlu memakan waktu lama, baru saya mengetahui bahwa anak kecil itu bernama Yusuf, lantas memanggil kawan-kawannya yang berjualan juga. Kemudian saya merogoh kantong plastik warna merah, berisikan nasi bungkus, dan segelas air mineral, terisisa 22 bungkus.

Terhitung ada 6 bocah, seketika nasi bungkus itu saya bagikan ke anak-anak tersebut, sembari makan, raut wajahnya tampaknya begitu terhibur, sesekali bercanda tawa lepas, saya mencoba berinteraksi ngobrol secara langsung pada mereka, setelah saya tanya satu persatu sebagian dari mereka ada yang tidak dapat melanjutkan sekolah karena ketertiadaan biaya, hanya sedikit diantara kawan-kawan Yusuf yang bisa melanjutkan jenjang pendidikan dasar, inilah ironi negeri ini, dimana akses pendidikan tidak menyentuh lapisan kaum bawah, hanya kaum berduit saja yang dapat memperoleh akses pendidikan seluas-luasnya. Namun tidak berlaku demikian kepada mereka masyarakat kecil.

Ilustrasi Foto

Inilah realita kehidupan masyarakat kecil, Bocah kecil yang tak mampu mengenyam pendidikan karena keterbatasan ekonomi, terpaksa menjadi pengasong, penjual koran & pengemis di jalanan. Ia harus berpanas-panasan, dan tak jarang harus bermalam dan tidur di jalan-jalan membanting tulang demi mendapatkan rupiah demi rupiah guna menyambung hidup. Di saat yang sama, ada seorang pejabat pemerintahan bermobil mengkilap, yang telah merasakan nikmatnya pendidikan hingga yang sangat tinggi sekalipun. Rentetan gelar pun tersemat di antara namanya.

Hidup menjadi anak jalanan bukanlah sebagai pilihan hidup yang menyenangkan, melainkan  keterpaksaan yang harus mereka terima karena adanya sebab tertentu. Anak jalanan bagaimanapun telah menjadi fenomena yang menuntut perhatian kita semua. Secara psikologis mereka adalah anak-anak yang pada taraf tertentu belum mempunyai bentukan mental emosional yang kokoh, sementara pada saat yang sama mereka harus bergelut dengan dunia jalanan yang keras dan cenderung  berpengaruh negatif bagi perkembangan dan pembentukan kepribadiannya. Aspek psikologis ini berdampak kuat pada aspek sosial. Di mana labilitas emosi dan mental mereka yang ditunjang dengan penampilan yang kumuh, melahirkan pencitraan negatif oleh sebagian besar masyarakat terhadap anak jalanan yang diidentikan dengan pembuat onar, anak-anak kumuh, suka mencuri, sampah masyarakat yang harus diasingkan.

Pada taraf tertentu stigma masyarakat yang seperti ini justru akan memicu perasaan alienatif mereka yang pada gilirannya akan melahirkan kepribadian introvet, cenderung sukar mengendalikan diri dan asosial. Padahal tak dapat dipungkiri bahwa mereka adalah generasi penerus bangsa untuk masa mendatang. Pekerjaan anak jalanan beraneka ragam, dari menjadi tukang semir sepatu, penjual asongan, pengamen sampai menjadi pengemis. Banyak faktor yang kemudian diidentifikasikan sebagai penyebab tumbuhnya anak jalanan. Parsudi Suparlan berpendapat bahwa adanya orang gelandangan di kota bukanlah semata-mata karena berkembangnya sebuah kota, tetapi justru karena tekanantekanan ekonomi dan rasa tidak aman sebagian warga desa yang kemudian terpaksa harus mencari tempat yang diduga dapat memberikan kesempatan bagi suatu kehidupan yang lebih baik di kota.

Ilustrasi Foto

Persoalan yang kemudian muncul adalah anak-anak jalanan pada umumnya berada pada usia sekolah, usia produktif, mereka mempuanyai kesempatan yang sama seperti anak-anak yang lain, mereka adalah warga negara yang berhak mendapatkan pelayanan pendidikan, tetapi disisi lain mereka tidak bisa meninggalkan kebiasaan mencari penghidupan dijalanan. Penanganan masalah anak jalanan sesungguhnya bukan saja menjadi tanggung jawab salah satu pihak saja, tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, LSM, akademisi dan masyrakat, secara keseluruhan.

 Surabaya, 25 Juni 2012

 

This entry was published on June 25, 2012 at 8:28 am. It’s filed under Opini Jalanan, pendidikan and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: