Coretan Penghuni Jalanan

Sementara itu, Pendidikan Marjinal Terabaikan

Kota Surabaya, sebagai kota kedua terbesar Indonesia memang banyak sekali menawarkan berbagai pilihan hidup, tak sedikit pula masyarakat urban dari desa datang berbondong-bondong dengan dalih untuk mencari penghidupan yang layak, kalau kita menelisik lebih lanjut, tidak bisa dipungkiri ditengah hiruk-pikuk kota Surabaya, dapat ditemukan suatu fenomena sosial yang tak asing ditelinga kita, yaitu kesenjangan sosial yang terpisahkan oleh dua jurang yang sangat dalam, antara si kaya dan si miskin, bahkan di ibu kota Jakarta sekalipun banyak ditemui tragedi di negeri ini, suatu permasalahan kompleks yang dimana pemerintah terus berupaya memecahkan masalah ini. Si miskin semakin terjepit, si kaya semakin menjadi miliarder.

Sebelum berbicara lebih jauh lagi, disini saya akan berbagi sedikit cerita mengenai kehidupan masyarakat marjinal yang ada di sudut kota, Surabaya kini tak ubahnya seperti hutan beton dimana gedung-gedung bertingkat menjulang tinggi, lahan semakin kritis dan sekaligus sempit, di sisi lain ternyata masih banyak kaum marjinal terdeteksi keberadaannya, berbanding terbalik dengan maju pesatnya pembangunan kota, masyarakat marjinal menjadi tersisihkan terbuang dipinggiran kota, jauh dari kata layak, sementara itu mereka luput dari perhatian pemerintah.

Sore itu, seperti biasa beberapa pekan yang lalu, saya mengajar adik-adik anak jalanan dan kaum marjinal di pinggiran stren kali JMP, saya mengajar tidak sendiri melainkan bersama kawan-kawan saya, usia adik-adik relatif antara 4-13 tahun, bangunan rumah yang mereka huni semi permanen terletak di pinggiran aliran sungai, mayoritas tidak bisa melanjutkan pendidikan formal dikarenakan faktor ekonomi, tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan biaya pendidikan saat ini tergolong mahal jauh melebihi pendapatan mereka sehari-hari, anak kecil menjerit meminta untuk segera disekolahkan ! itu sebagai hal yang lumrah terjadi di kehidupan mereka, ini adalah salah satu potret buram realita masyarakat marjinal yang seharusnya butuh perhatian serius dari pemerintah.

Setelah mengajar dirasa sudah cukup, kemudian saya beranjak dari tempat itu untuk menuju ke suatu tempat, jarak antara jmp ke tempat tersebut tidak terlampau jauh, namun kemacetan sering menghambat laju kendaraan saya, maklum jam sibuk pulang kerja, jadi kemacetan sering tidak dapat terurai, dibutuhkan waktu kuang lebih sekitar 20 menit untuk sampai ke lokasi tujuan, dimana biasanya warga kota surabaya berakhir pekan mengisi waktu senggang di taman, ya. Taman Bungkul, tempat area berkumpul yang dapat menyedot banyak pengunjung kalau di hari sabtu. Tidak sedikit banyak pedagang dan para penjual asongan yang berkeliling sekedar berjualan mencari sesuap nasi ditengah para pengunjung di taman bungkul.

Selain saya mengajar di JMP, saya juga beberapa bulan yang lalu pernah mengajar di Bungkul, menemui adik-adik yang bernasib sama dengan adik-adik JMP, dapat dikatakan rata-rata adik-adik bungkul bekerja membantu perekonomian keluarga, dengan menjadi penjual asongan keliling, sebut saja namannya Jane, 13 tahun, tahun ini dia baru saja lulus selokah dasar, berdasarkan penuturan dari ibunya, tahun ini orang tuanya si Jane tidak dapat menyanggupi untuk menyekolahkan ke sekolah jenjang lebih tinggi strata pendidikan SMP, lagi-lagi karena faktor perekonomian, gadis kecil ini kerap kali harus mengubur dalam-dalam cita-citanya. Biasanya Jane juga dibantu dengan kakak laki-lakinya membantu orang tuanya, dengan menyewakan permainan motor-motoran kecil kepada pengunjung anak-anak kecil di area taman Bungkul, penghasilan yang didapat tidak seberapa, belum lagi ongkos sewa, karena barang yang dia sewakan tidak sepenuhnya milik dia, jadi harus membagi penghasilan ke empunya permainan tersebut. Nah itulah sebagian kecil contoh kehidupan kaum marjinal.

Di wilayah-wilayah perkotaan, kaum miskin lebih tepat dikatakan sebagai “kaum marginal”. Dengan menyebutnya sebagai kaum marginal, maka ada dimensi sosiologis tertentu yang coba dimengerti dari peri kehidupan kaum miskin perkotaan. Beda dengan kaum miskin di perdesaan, kaum miskin perkotaan menatap dinamika dan gebyar modernisasi penuh warna. Kaum miskin perkotaan turut serta menjadi saksi mata terhadap derap perkembangan sosial-ekonomi dalam konteks modernisasi. Dengan menyebutnya sebagai kaum marginal, maka timbul pengakuan bahwa merekalah memang saksi mata modernisasi perkotaan, tapi tragisnya tak turut serta menikmati manfaat modernisasi.

Seperti halnya warga perkotaan pada umumnya, kaum marginal mutlak dan terkondisikan untuk terlibat dalam upaya-upaya pertahanan diri. Tetapi mekanisme pertahanan diri itu terbentang dalam berbagai ragam aktivitas ekonomi bawah tanah yang tak diperhitungkan oleh rezim kekuasaan. Jalan raya atau jalanan umum yang ramai merupakan domain kaum marginal untuk mengais naskah demi mempertahankan eksistensinya. Secara kategoris, mereka bekerja sebagai pengemis, pemulung sampah, pedagang asongan, pengamen, pemilik warung kecil, kuli bangunan dan pekerja seks komersial. Berapa jumlah riil populasi kaum marginal itu, hingga kini tak ada data pasti yang valid.

Di kota besar semacam Jakarta, Surabaya, Bandung, anak-anak kaum marginal bisa dengan sangat mudah ditemukan di bantaran rel kereta api, bantaran sungai dan kolong jembatan. Hidup dalam lingkungan kumuh, anak-anak ini merupakan potret dari generasi yang hilang (the lost generation), lantaran terabaikan hak-haknya untuk mengenyam pendidikan secara layak. Sekali pun Undang-Undang Dasar 1945 secara normatif menjamin hak hidup dan tumpah darah mereka sebagai warga negara, ternyata mereka diabaikan keberadaannya oleh rezim kekuasaan.

Terlebih lagi dalam situasi serba pelik tatkala pemerintrahan diwarnai regenerasi koruptor secara sistematis, pendidikan kaum marginal cenderung terabaikan, Kecamuk korupsi dalam jejaring kekuasaan hanya mempertegas kehadiran aparat dan birokrat yang sama sekali tak merakyat, bahkan memusuhi kaum marginal.

Surabaya, 1 Juli 2012

This entry was published on July 1, 2012 at 9:22 am. It’s filed under Opini Jalanan, pendidikan and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: