Coretan Penghuni Jalanan

Cerita Sudut Perempatan Jalanan

Malam itu di salah satu perempatan jalan di Kampus A Unair, ditengah hiruk pikuk padatnya lalu lintas, terdapat banyak lalu lalang kendaraan yang melintasi jalanan,  disana terlihat seorang bocah kecil dibawah sudut lampu merah, berjualan koran, walaupun jam sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB, sesekali anak tersebut menyodorkan koran pagi yang dijual malam hari kepada setiap pengguna jalan raya yang melintas, anak tersebut tidak bekerja sendiri banyak teman sebayanya yang ikut berjualan di perempatan jalan tersebut

Usianya masih relatif belia, usia dimana masih berstatus sebagai pelajar sekolah dasar, namun diusianya itu dia harus memikul berat tanggung jawab keluarga, bekerja diusia muda menjadi pilihan terakhir guna mencukupi kehidupan keluarga, atau sekedar membantu perekonomian keluarga, jam operasional kerja mereka beragam dimulai jam 16.30 WIB hingga larut malam tak jarang juga larut malam sampai dini hari baru beranjak dari sudut perempatan jalan, menurut penuturan dari salah satu adik penjual disana sebut saja namanya Imam, saat ini dia duduk dibangku sekolah menengah pertama, anak yang berciri-ciri berkulit sawo matang, rambutnya hitam legam, secara fisik tidak berbeda dengan anak seumuran mereka ini menuturkan bahwa dia senang menjalani kehidupan seperti ini, walaupun didalam kehidupannya ada keterbatasan, itu tidak menjadi penghalang untuk berbuat sesuatu yang dapat meringankan beban orang tua

Kehidupan seperti anak-anak yang beranjak remaja dia jalani, seusai pulang sekolah kira-kira pukul 2 siang, dia menanggalkan seragam sekolahnya untuk segera makan siang, kemudian dilanjutkan dengan istirahat siang, biasanya dia memanfaatkan waktu untuk tidur sejenak melepas rasa capek seusai pulang sekolah, kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan Bapak/Ibu guru yang ada disekolah, seperti biasa diusianya yang masih belia itu dia sesekali bermain dengan teman sebayanya, kemudian pulang, nah lantas apa yang berbeda dari anak tersebut

Secara teori yang acuannya terhadap UUD 1945, negara wajib memelihara seluruh warganya dan khusus kelompok marginal seperti fakir miskin dan anak terlantar mendapatkan tempat sebagai salah satu poin khusus pada pasal terpisah.

Namun dilihat dari kenyataan yang terjadi saat ini, tidak semua warga negara mendapatkan jaminan UUD 1945 tersebut bahkan ada yang tidak tersentuh sama sekali oleh jaminan tersebut. kondisi masyarakat marginal saat ini malah semakin bertambah parah, anak jalanan tetap berada di tempatnya bahkan seperti layaknya sebuah organisasi, ada generasi penerus setiap tahunnya.

Pengangguran masih membludak, baik yang timbul di akhir periode pendidikan dengan tamatan suatu instansi pendidikan yang berjumlah ribuan, korban dari pemecatan secara sepihak dari beberapa perusahaan maupun pengangguran yang telah bertahun-tahun “berpengalaman” sebagai pengangguran sejati yang kemudian banyak di antaranya menempuh jalur “instant” seperti mengemis, mencopet, mencuri, merampok, menipu dan lan sebagainya.

Surabaya, 15 Juli 2012

This entry was published on July 15, 2012 at 3:26 pm. It’s filed under Opini Jalanan, pendidikan and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: