Coretan Penghuni Jalanan

Kami Ada Untuk Mengajar

Suasana mengajar on the street di bungkul park

Setelah postingan sebelumnya saya menyinggung tahun ajaran baru 2012/2013 yang baru saja bergulir beberapa minggu lalu, di momen spesial bulan ramadhan ini saya akan berbagi sedikit cerita selama saya mengajar anak-anak jalanan dan marjinal, dan beberapa tips yang mungkin bisa anda jadikan referensi, semoga bermanfaat, saya rasa ini tidak asing bagi telinga anda, ketika mendengar anak jalanan dan marjinal, secara garis besar mereka mempunyai kebutuhan psikologi yang berbeda dengan orang awam pada umumnya, dengan asumsi orientasi kepribadian dalam bertindak, berperilaku, dan mengolah pikir boleh saya katakan berbeda dengan kita, bukannya bermaksud membandingkan tapi memang itulah kenyataannya

Banyak sekali pelajaran yang terkadang tidak dapat saya dapatkan baik itu di sekolah formal maupun lembaga akademisi, disini saya merasakan banyak sekali belajar pada mereka, kenapa saya katakan seperti itu ? jika kita berfikir tentang kehidupan sosial mereka, tentunya kita terheran-heran kenapa mereka bisa bertahan hidup alias survive ditengah himpitan kesulitan yang mendera silih berganti, disatu sisi mereka tetap berstatus menjadi anak yang usianya relatif masih muda, namun daya kemandirian hidup tidak bisa dianggap remeh, ini hanya contoh kecil saya belajar pada mereka arti sesunguhnya hidup ini seperti apa

Berbicara anak-anak usia relatif antara 5 tahun hingga 12 tahun, tentunya anak-anak mempunyai karakter yang berbeda, perbedaan itu beragam, adapun pengertian karakteristik anak-anak merupakan semua watak yang nyata dan timbul dalam suatu tindakan siswa dalah kehidupannya setiap saat. Sehingga dengan demikian, karena watak dan perbuatan manusia yang tidak akan lepas dari kodrat, dan sifat , serta bentuknya yang berbeda-beda, maka tidak heran jika bentuk dan karakter siswa juga berbeda-beda, pada umumnya karakteristik anak-anak dapat digolongkan menjadi 4 macam, sebagai berikut

  1. Senang bermain.

Karakteristik ini menuntut seorang pengajar untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih–lebih untuk kelas rendah. seorang pengajar seyogyanya merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. seorang pengajar atau guru hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai. Penyusunan jadwal pelajaran hendaknya diselang saling antara mata pelajaran serius seperti ipa, matematika, dengan pelajaran yang mengandung unsur permainan seperti pendidikan jasmani, atau seni budaya dan keterampilan

2. Senang bergerak

Orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak-anak dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, tenaga pengajar hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.

3. Anak senang bekerja dalam kelompok.

Dari pergaulanya dengan kelompok sebaya, anak belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajari olah raga dan membawa implikasi bahwa seorang pengajar harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa pengajar harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. pengajar atau guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 3-4 orang untuk mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.

4. Senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung.

Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak-anak memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Berdasar pengalaman ini, siswa membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan, jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Bagi anak, penjelasan tenaga pendidik tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri, sama halnya dengan memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian pengajar hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang solat jika langsung dengan prakteknya.

Ada hal yang perlu dicatat sebelum menyampaikan materi kepada anak-anak adalah seorang pengajar harus mempelajari kembali materi yang sedianya akan disampaikan kepada anak-anak, itu sangat penting, mengingat itu sebagai bahan acuan pegangan materi yang harus diajarkan kepada anak-anak, lantas buatlah rangkuman atau beberapa point yang sekiranya menjadi bahan mengajar, kemudian kembangkan sebaik mungkin, agar anak-anak mudah menyerap materi semaksimal mungkin, karena banyak mengajar tentunya ini akan berimplikasi ada pelajaran yang lupa

Adapun point yang kedua adalah setelah mereview bahan ajar materi, buatlah soal sebanyak mungkin, lantas kemudian klasifikasikan soal tersebut menjadi beberapa level kategori mudah, ringan, dan sulit, hal ini bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik anak-anak dan catat kemampuan anak tersebut, presentase kemajuan Hal ini berguna agar anda dapat mengetahui apakah materi anda telah diserap dengan baik oleh siswa dan siswa mana yang perlu anda bimbing lebih ekstra agar nilainya tidak jatuh

Saat berada di ruangan belajar ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai tenaga pendidik bagi anak-anak berkebutuhan seperti anak-anak jalanan dan marjinal

  • Langkah pertama sebelum atau sesudah memasuki ruangan ucapkan salam terlebih dahulu, setidaknya memberikan rasa hormat kepada mereka melalui ucapan salam, dan membangun kedekatan emosional dengan anak-anak, apabila kita mengucapkan kata halo, perintahkan anak-anak untuk menjawab dengan kata hai, demikan sebaliknya
  • Menghadapi anak-anak itu sebenarnya mudah, bagaimana caranya sebagai tenaga pengajar untuk pintar menyiasatinya, maksud saya bagaimana kita merebut hati anak-anak didik yang kita ajarkan tersebut
  • Buatlah ruangan senyaman mungkin bagi anak-anak peserta didik dan satu hal tidak membosankan, sebagai seorang motor tenaga pengajar kita harus berinovasi menciptakan suatu metode baru, nah ini berdasarkan pengalaman mengajar ada baiknya kita cakap berbicara, menguasai suasana, cara bersikap itu perlu menjadi koreksi, supaya anak-anak dapat menerima dengan baik.
  • Menjadi tenaga pengajar ada baiknya membuat peserta didik merasa takut, takut bukan dalam artian ketakutan membuat hukuman bagi anak-anak, bukan itu maksud saya, buatlah anak-anak merasa takut karena hormat pada anda bukan karena hukuman
  • Dalam proses penyampaian materi seorang pengajar harus memahami kebutuhan anak itu berbeda-beda, perbedaan ini adalah yang mendasari agar pengajar mencari solusi, misalnya pada waktu penyampaian materi point-point pentingnya saja, karena pada dasarnya anak-anak tidak sudak bertele-tele langsung to the point
  • Agar suasana tidak membosankan atau monoton setelah penyampaian materi seorang tenaga pengajar diharapkan setidaknya melakukan kuis edukatif hal ini dapat menjadi indikator apakah materi yang telah disampaikan sudah diterima dengan baik oleh siswa. usahakan kuis dilakukan setelah materi penyampaian usai supaya tidak terlalu memakan waktu banyak
  • Setelah dirasa sudah cukup, nanti adakan semacam sesi interaktif tanya jawab kepada anak-anak, hal ini bertujuan agar anak peserta didik merasa perlu dilibatkan sehingga anak tersebut tidak perlu sungkan untuk melontarkan pertanyaan, karena berdasarkan pengalaman saya anak-anak cenderung akan bersikap diam apabila kita tidak memulai sesuatu pembicaraan dengannya
  • Tidak ketinggalan PR pekerjaan rumah harus anda berikan kepada anak-anak ini  dimaksudkan agar anak akan mengulang kembali pelajaran yang disampaikan oleh anda
  • Tidak bisa pungkiri anak-anak cenderung suka bergerak, dan sering merasa bosan dengan keadaan kelas mengajar ada baiknya sebagai tenaga pengajar mengarahkan anak peserta didik khususnya anak berkebutuhan khusus seperti anjal dan marjinal karena mereka cenderung suka namanya keterampilan untuk belajar di outdoor alias luar ruangan, ini bertujuan agar mereka mengeksplorasi dunia luar
  • Setelah proses mengajar usai, hal semacam ini sering lupa dilakukan oleh pengajar yaitu evaluasi, memperbaiki beberapa hal yang perlu ditambahkan atau perlu dikurangi selama mengajar

Berminat menjadi volunteer pengajar SSC, ayo libatkan diri kalian menjadi tenaga penggerak demi kemajuan bangsa ini

Surabaya, 20 Juli 2012

This entry was published on July 20, 2012 at 5:19 pm. It’s filed under Opini Jalanan, pendidikan and tagged , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

4 thoughts on “Kami Ada Untuk Mengajar

  1. NOTED!
    terimakasih untuk langkah2 mengajarnya kaka:)

  2. Sama-sama kakak, salam preman baca pengajar keren hehehe

  3. saat mengajar dan belajar bersama mereka, banyak Hal yang kita pelajari dan semakin bertambah bersyukur🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: