Coretan Penghuni Jalanan

Kisah Diantara Kami Di Jalanan

Sore itu, langit Kota Surabaya berwarna merah jingga, pertanda akan datangnya senja akan segera menampakkan diri mengganti siang hari yang terik, sinar matahari terlihat berjauhan menggelayut, sesekali sinar senja hari menerobos diantara gedung bertingkat menjulang tinggi, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi Kota Surabaya menjadi kota metropolitan, tidak ketinggalan juga kota terbesar kedua setelah Jakarta, sebutan Kota Pahlawan selalu melekat ditubuh arek Suroboyo, jujur saja kotaku kini mengalami banyak perubahan sana sini, dimana sekarang lahan telah disulap menjadi hutan

Bukan hutan rimba, ataupun juga hutan konservasi, sekarang kini beralih menjadi hutan beton, apakah ini namanya arus global kemajuan zaman ! bangunan nan megah berdiri menghiasi di kanan kiri jalan, lalu lalang kendaraan melintasi disetiap lintasan aspal jalanan, tercatat 2 juta kendaraan setiap harinya turun ke jalan, timbul benih permasalahan baru yakni kemacetan, seolah-olah menambah deretan wajah buruk, tak ayal apabila di Surabaya keadaan cuaca disini bergitu panas pada waktu siang harinya rata-rata 30-33 derajat celcius

Sore itu terasa sangat berbeda karena bertepatan dengan datangnya bulan puasa 1433 H, dimana umat muslim di seluruh dunia merayakannya dengan penuh rasa suka cita, hari itu tanggal 23 Juli tepat hari senin, terhitung sudah 3 hari kami menjalani ibadah puasa, seperti biasa saya dan kawan-kawan seperjuangan bertekad tetap mengajar on the street alias di jalanan, ini bukan sesuatu hal baru bagi saya, karena saya sudah terjun hampir 1 tahun lebih ke dunia mereka, banyak suka dukanya, akan tetapi cenderung sukanya terlebih jika kita sudah membangun kedekatan emosional dengan adik-adik, seperti ada kepuasan tersendiri yang terkadang tidak dapat dideskripsikan

Sore menjelang petang kira-kira pukul 4 sore, kami memang sengaja mendatangi mereka adik-adik, karena kita sudah menjadwalkan bahwa nanti akan mengajar ditempat itu sebelumnya, untuk belajar bersama, di persimpangan jalan dekat kampus A Unair, Dharmawangsa ini lah kami biasanya meluangkan waktu sore hari, untuk mengajari mereka, ya sekedar membantu mengatasi pelajaran yang sekiranya sulit disekolah, kami mencoba membantu mengulurkan tangan sebagai wujud kepedulian sesama, memang tidak banyak yang bisa kami perbuat, akan tetapi anggaplah ini sebagai awal berdirinya langkah besar, bukankah sesuatu yang besar diawali dengan hal-hal kecil seperti ini

Hidup di jalan bukanlah suatu pilihan tepat bagi anak kecil usia mereka, mencoba mengais rezeki dengan cara halal melalui berjualan koran adalah salah satu upaya jalan guna melepaskan belenggu kemiskinan, tidak banyak yang ia dapatkan termasuk penghasilan, pendapatan yang ia hasilkan hanya dapat memenuhi kebutuhan makan sehari saja, belum termasuk yang lain yaitu biaya pendidikan, sore itu seperti biasa sebut saja namanya Imam, 13 tahun tubuhnya kecil, berkulit sawo matang, apabila berjualan dia suka mengenakan seragam pramuka di sudut persimpangan jalan

Mam begitu sapaan akrabnya, memang sudah terbiasa menghirup asap jalanan, dibawah terik panas matahari menyengat, bahkan sering kali terkena razia Satpol PP, Imam tidak bekerja sendiri disana, ada temannya juga, usianya tidak terpaut jauh hanya beberapa tahun saja, setahun, ya kurang lebih seperti itu, dia masih berstatus sebagai pelajar di salah satu SMP Swasta di kota Surabaya, sebagian besar hari-harinya dihabiskan di jalanan, seusai pulang sekolah, dia ia tidak lupa membantu orang tuanya, membereskan rumah sebentar, kemudian dilanjutkan istirahat tidur

Lantas pada waktu sore harinya kemudian ia bekerja sampingan menjadi loper koran tak jarang sampai larut malam baru kunjung pulang, tergantung pada laku tidak terjualnya koran, kalau koran laris terjual, ya tidak sampai larut malam mas, begitu ucapan yang dikatakan di mulut kecil Imam, sambil memasang wajah polosnya dihadapan saya, suara bising kendaraan bermotor kerap kali terdengar ditelinga mungil mereka, kendaraan roda empat dan roda yang berjejalan di lampu merah sudah menjadi pemandangan sehari-hari bahkan tidak asing lagi dengan dinginnya angin malam, mereka pun sudah merasakan kerasnya kehidupan jalanan

Mungkin bagi anda ini bukan menjadi hal biasa tapi bagi mereka sudah biasa mereka lakukan setiap harinya, setiap bulannya, bahkan setiap tahunnya, berjualan koran tak jarang juga mengharap belas kasih kepada setiap pengguna jalan yang berhenti di lampu merah, tampaknya kini dia bersahabat erat dengan lingkungan yang sudah membesarkan mereka, lingkungan keras kehidupan jalanan, setelah mengajar dirasa cukup, kami sudahi pertemuan dengan mereka, karena waktu menjelang maghrib, tiba saatnya untuk berbuka dengan para preman dibaca pengajar keren

Potret Dokumentasi 

Berminat menjadi volunteer pengajar SSC, ayo libatkan diri kalian menjadi tenaga penggerak demi kemajuan bangsa ini

We Care To Share, Kalau Bukan, Kita Siapa Lagi ? Kalau Bukan, Sekarang Kapan Lagi ?

Surabaya, dini hari 25 Juli 2012

This entry was published on July 25, 2012 at 6:35 pm. It’s filed under Opini Jalanan, pendidikan, Torehan Jalanan and tagged , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

2 thoughts on “Kisah Diantara Kami Di Jalanan

  1. adek-adek jalanan, akan begitu banyak pelajaran hidup yg bisa kita pelajari dari mereka. Cara mereka bertahan hidup, cara mereka bersosialisasi, dan cara mereka tertawa. Mereka tertawa lepas, jujur, dan tidak ada kemunafikan. aah saya cinta semua anak2 jalanan Indonesia. Salam dengan adek2 SSC Surabaya yah kaka🙂

  2. Saya sependapat dengan opini mbak, salam hangat juga buat adek2 SSC di Bandung dan tentunya kakak-kakak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: