Coretan Penghuni Jalanan

Pelajaran Hidup Kejujuran & Kaya Hati

Ilustrasi foto sebut saja namanya Puput kawan kecil saya, salah satu penjual koran

Setelah sebelumnya saya memposting artikel yang berjudul membiasakan pendidikan berkarakter sejak dini, kali ini saya akan menulis artikel yang ada kaitan hubungannya dengan berkarakter, sedikit mengulas kembali yang perlu digaris bawahi bahwa kejujuran tidak hanya dibentuk dari pribadi seseorang, tetapi juga dibentuk dari lingkungan sekitar, faktor lingkungan juga mempunyai andil besar membentuk kepribadian karakter seseorang kedepan, suatu fenomena unik yang perlu dibahas, dengan asumsi demikian banyak orang menyakini dalam dirinya sudah jujur secara lisan dalam bentuk perkataan verbal kepada orang lain, namun tidak sedikit orang yang mengakui dalam hatinya berkata sebaliknya

Nah itu sering kali luput dari perhatian kita, bagi saya jujur tidak hanya diucapkan dalam ucapan verbal sehari-hari saja, akan tetapi juga jujur dalam tindakan, sesuatu yang kita lakukan dalam keseharian akan sangat mempengaruhi kejujuran pada diri kita sendiri, berbicara kejujuran, Jujur adalah sebuah kata yang telah dikenal oleh hampir semua orang. Bagi yang telah mengenal kata jujur mungkin sudah tahu apa itu arti atau makna dari kata jujur tersebut. Dengan memahami makna jujur, maka mereka akan dapat menyikapinya. Jujur adalah sebuah kata yang telah dikenal oleh hampir semua orang. Namun masih banyak yang tidak tahu sama sekali dan ada juga hanya tahu maknanya secara samar-samar.

Pernah suatu ketika saya membaca artikel di surat kabar online yang isinya memuat berita tentang seorang gelandangan yang jujur, di berita tersebut menyebutkan bahwa gelandangan tersebut jujur mengembalikan uang terhitung nominalnya sangat besar Rp 97 juta yang ia temukan di pinggir jalan, peristiwa ini terjadi di Brazil, pasangan ini hidup di jalan sudah beberapa tahun, mereka sudah kenyang dengan penderitaan, hidup mereka miskin, tak punya pekerjaan, luntang-lantung di jalanan, dan tinggal di kolong jembatan, meskipun mereka hidup serba dalam keterbatasan, tetapi mereka tidak mengambil sesuatu barang yang bukan menjadi haknya

Untuk berita selengkapnya, kalian dapat membacanya disini. kalau boleh saya jujur saya salut atas apa yang dilakukan oleh mereka, walaupun dalam kehidupan sosial mereka boleh dikatakan jauh dari kata layak, miskin materi tidak membuatnya miskin hati begitulah ungkapan yang tepat menggambarkan kisah hidup mereka, tetapi dia tidak ada itikad niat untuk mengambil uang tersebut dan membawanya pulang, malah sebaliknya mereka mengembalikan uang tersebut kepada pemiliknya, suatu tindakan terpuji, bagi anggapan sebagian orang, apalagi di masa yang sekarang ini, kejujuran sulit sekali ditemukan, mengingat banyak orang sekarang lebih mementingkan egonya daripada menuruti isyarat hatinya

Membaca artikel tersebut kembali mengingatkan saya kepada salah satu kawan kecil saya, umurnya terbilang masih anak-anak dan akan memasuki usia remaja, usianya relatif sangat muda, 13 tahun, tapi sikapnya mengindikasikan cenderung bahwa pemikirannya dewasa, saya terlibat dalam percakapan singkat malam itu, setelah saya dan kawan-kawan komunitas bagi-bagi susu, yang secara kebetulan berlokasi di stren kali JMP, ditempat sana lah saya biasanya menghabiskan waktu setiap sore, selasa hingga kamis, sedikit berbagi pengetahuan yang saya miliki, sebagian masyarakat yang bermukim di area stren kali, membangun bangunan pemukiman semi permanen & keberadaanya illegal

Beralih ke topik ke pembicaraan pada anak itu, bocah laki-laki berciri-ciri berkulit sawo matang, badannya kurus, dia sehari-hari berprofesi sebagai pemulung barang bekas, alih alih berpredikat menjadi pelajar ia tinggalkan, sekolahnya putus ditengah jalan, demi membantu memperbaiki perekonomian keluarga, setiap harinya dia mengumpulkan barang yang menurut sebagian besar orang sukar jijik dan menggelikan, dia tanpa sungkan mengais barang bekas disetiap bak penampungan dari sudut gang sempit, tatapan matanya mengisyaratkan bahwa ada sesuatu, entah itu apa saya juga tidak mengerti, perbincangan singkat yang terkadang membuat saya belajar kepada dia

Mengawali pembicaraan malam itu, saya bertanya kepada dia, pertanyaan singkat padat berisi, jika kamu dihadapkan dengan pilihan yang sulit, kamu akan lebih cenderung memilih mana ? opsi pilihan pertama kamu hidup serba berkecukupan, hidup dalam lingkup keluarga yang kaya raya, tidak ada kekurangan apapun, mempunyai istri yang cantik rupawan, dalam segi materi tidak diragukan lagi namun ada satu hal yang kurang kamu miskin hati ? adapun pilihan kedua sebaliknya kamu dianugerahi oleh Tuhan kaya hati namun tuhan memberikan kamu kehidupan yang sederhana, kamu hidup dalam kesederhanaan, namun kamu miskin materi ?

Dia berucap kepada saya, dengan nada tegas namun menyakinkan, ya saya lebih memilih hidup sederhana namun kaya akan hati, daripada saya hidup bergelimang harta yang kaya raya tetapi msikin hati, dia memberikan alasan kepada saya kenapa dia cenderung memilih opsi pilihan pertama, sambil mengobrol sesekali dia melempar tawa kepada saya, karena kaya hati itu kaya senyata-nyatanya, mendengar peryataannya, jujur saya terketuk hatinya karena masih ada orang yang hidup dalam kesederhanaan, sambil dia menambahkan pernyatan sikap, orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu, banyak orang kaya diluar sana semisal dia menunjuk koruptor namun masih merasa kekurangan, hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi oleh Tuhan

Sungguh luar biasa cerminan sikap anak itu, saya tidak menyangka bahwa dia akan berucap seperti itu, jauh dari pemikiran saya sebelumnya, nah itulah sedikit kisah yang menggambarkan petikan percakapan saya dengan bocah itu, adapun hikmah yang dapat kita ambil dari itu semua adalah banyaknya harta dan kemewahan dunia bukanlah jalan untuk meraih kebahagiaan senyatanya. Orang kaya selalu merasa kurang puas. Jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya.

Oleh karena itu, kekayaan senyatanya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri, Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta, hal ini berlaku pada kita sudah sepantasnya kita mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah, nikmat sekecil apapu itu, kita harus wajib mempercayai bahwa Allah itu sudah memberikan yang terbiak buat kita, coba lihat diluar sana masih banyak saudara kita kekurangan namun mereka tidak mengeluh, coba pikirkan sekali lagi

Kebahagiaan tidak akan pernah habis hanya karena membaginya, tetapi kebahagiaan akan bertambah ketika kita bersedia untuk berbagi

Surabaya,06 Agustus 2012

This entry was published on August 6, 2012 at 2:44 pm. It’s filed under Opini Jalanan, pendidikan, Torehan Jalanan and tagged , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: