Coretan Penghuni Jalanan

Catatan Realita Kehidupan Sosial Jalanan

Ilustrasi foto kawan kecil saya sebut saja Puput

Pemerataan pembangunan yang selama ini menjadi salah satu kunci di semua lini pemerintahan ternyata tidak berjalan dengan sesuai dengan harapan. Munculnya kesenjangan sosial atau diskriminasi sosial dalam masyarakat merupakan suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri sebagai hasil dari pembangunan tersebut. Kondisi ini terlihat jelas dari ketimpangan pembangunan wilayah khususnya daerah perkotaan dan pedesaan. Munculnya pusat-pusat pemerintahan dan perekonomian daerah perkotaan membawa pengaruh semakin tingginya tingkat mobilitas dan persaingan kompetisi dalam memenuhi kebutuhan ekonominya.

Tingginya kompetisi didalam masyarakat membawa pengaruh dalam beragamnya pola penghidupan masyarakat. Hal ini dapat kita lihat dari tingkat sosial dan strata kondisi masyarakat itu sendiri. Perkembangan perkotaan yang begitu pesat ternyata tidak hanya dirasakan oleh para orang dewasa yang harus bekerja guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Kondisi serupa juga dialami oleh anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu alias miskin dalam segi finansial yang terpaksa harus mengais rezeki demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Salah satu cara yang dihadapi oleh anak adalah dalam membantu perekonomian keluarga adalah ketika mereka terpaksa dan dipaksa oleh keluarga maupun dipaksa oleh keadaan untuk ke jalanan untuk mendapatkan kebutuhan perekonomian tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena anak jalanan khususnya di daerah perkotaan merupakan persoalan permasalahan yang klasik yang harus dihadapi dalam menata jalannya roda pemerintahan.

Kehidupan anak jalanan dengan berbagai karakteristiknya menjadi ciri khas yang membedakannya dengan kelompok masyarakat lain. Image negatif yang selama ini melekat pada anak jalanan selama ini menjadi perhatian utama pada semua pihak khususnya kepada pihak yang konsen menangani dan memberdayakan anak jalanan. Lingkungan kerja atau pergaulan anak jalanan yang jauh dari keluarga dan senantiasa berhadapan dengan kerasnya hidup membuat mereka tumbuh berkembang sesuai dengan tuntutan kebutuhan lingkungannya. Kondisi tersebut menjadi pemandangan sehari-hari di wajah perkotaan metropolitan.

Kondisi ini diperparah dengan sikap pemerintah yang tidak serius dalam menangani  permasalahan anak jalanan terlebih dalam upaya penertiban pemerintah kota hanya bisa melakukan upaya penggarukan penertiban yang tak jarang disertai tindakan arogansi kekerasan terhadap anjal, gepeng & pengemis tanpa ada suatu langkah solutif guna menekan jumlah anjal yang bertambah, misalnya adalah membuat suatu wadah penampung aspirasi anak jalanan untuk terus berkarya dalam bidang seni dan keterampilan atau bisa juga menyalurkan minat bakat anak  itu terkadang masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah kota dalam hal ini terkait Dinsos setempat.

 

Surabaya,Sore hari 17 Agustus 2012

This entry was published on August 17, 2012 at 9:29 am. It’s filed under Opini Jalanan, Torehan Jalanan and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: