Coretan Penghuni Jalanan

Pemberdayaan Marjinal

Ilustrasi foto potret adik-adik bermain puszzle, photographer @denriizkii

Secara teori yang acuannya terhadap UUD 1945, dalam pasal 34 negara wajib memelihara seluruh warganya dan khusus kelompok marginal seperti fakir miskin dan anak terlantar mendapatkan tempat sebagai salah satu poin khusus pada pasal terpisah.

Namun dilihat dari kenyataan yang terjadi saat ini, tidak semua warga negara mendapatkan jaminan UUD 1945 tersebut bahkan ada yang tidak tersentuh sama sekali oleh jaminan tersebut.

Kondisi masyarakat marginal saat ini malah semakin bertambah parah, anak jalanan tetap berada di tempatnya bahkan seperti layaknya sebuah organisasi, ada generasi penerus setiap tahunnya.

Pengangguran masih membludak, baik yang timbul di akhir periode pendidikan dengan tamatan suatu instansi pendidikan yang berjumlah ribuan, korban dari pemecatan secara sepihak dari beberapa perusahaan maupun pengangguran yang telah bertahun-tahun “berpengalaman” sebagai pengangguran sejati yang kemudian banyak di antaranya menempuh jalur “instant” seperti mengemis, mencopet, mencuri, merampok, menipu dan lan sebagainya.

Lantas, apakah pemerintah tidak punya program untuk rencana penyelesaian masalah ini? Jawabannya “ADA” bahkan banyak sekali dan selalu menjadi topik utama dalam tiap pembahasan penyusunan program.

Hal ini telah dilakukan oleh elit-elit politik jauh sebelum mereka terpilih, mulai dari sosialisasi kepada teman dan kerabat, mencari dukungan dan simpati masyarakat lewat media sampai saat masa kampanye tiba. Tapi setelah terpilih, hal itu seperti terlupakan atau mungkin sengaja dilupakan.

Masih menjadi sebuah tanda tanya besar mengapa program-program yang telah banyak dijanjikan tidak berjalan sesuai dengan khayalan yang digambarkan sebelumnya. Apakah mereka tidak punya kemampuan untuk menjalankannya? Atau tidak adanya anggaran untuk program tersebut?

Realita membuktikan bukan karena kedua faktor ini. Lantaran mereka adalah kumpulan orang-orang intelektual dan tersedianya anggaran setiap tahun untuk pengentasan kemiskinan di berbagai kategori populasi masyarakat miskin, mulai dari pelosok pedesaan sampai dengan tetangga mereka sendiri.

Ironisnya beberapa program yang disebutkan sebagai program pembinaan dilakukan lewat kegiatan razia. Alasannya sangat tidak manusiawi, lebih mementingkan keindahan pembanguan dari pada sisi kemanusian terhadap populasi yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus. Kaum marginal dianggap sampah masyarakat, mereka dianggap membuat semak kota.

Mari kita kesampingkan alasan tersebut dan bertanya apakah program pembinaan tersebut berhasil menyelesaikan masalah? Jawabannya “TIDAK”. Kaum marginal yang kena razia tadi kemudian dikembalikan ke kampung halamannya dan kemudian mereka kembali ke aktifitas semula karena masalah yang sama, ekonomi. Tidak tahu bagaimana bentuk pembinaan yang diimplementasikan, yang jelas mereka keluar tanpa perubahan apalagi dukungan di sektor perekonomian.

Anak jalanan dengan program penarikan anak jalanan, pembinaan anak jalanan, pelatihan lifeskill untuk anak jalanan dan lain-lain, tetapi hasilnya anak jalanan tetap di jalanan, bahkan setiap tahunnya bertambah dengan wajah-wajah baru.
Masyarakat miskin dengan program bantuan langsung tunai, raskin, subsidi, kewirausahaan, penyuluhan, pemberdayaan masyarakat, tapi masyarakat miskin tetap berada di bawah garis kemiskinan atau sedikit naik lebih tinggi, berada di garis kemiskinan yang sama-sama tetap dalam kondisi miskin dan masih terus mengais lembaran rupiah di pinggiran kota, bahkan harus dengan cara mengemis dan beberapa cara lainnya yang dihalalkan.

Setelah melihat ke bawah pada pemandangan masyarakat marginal, lanjutkan pandangan ke atas yang terdapat pemandangan gemerlap ekslusif para superstar bersafari dan berdasi yang mengobral janji-janji dan kemudian basi.
Mereka adalah warga negara yang merdeka secara absolut. Mereka mendapatkan semua jaminan yang ada dalam undang-undang perlindungan warga negara serta jaminan ekonomi bahkan yang mereka dapatkan lebih dari hak yang sesuai dengan pekerjaan mereka. Mereka adalah program maker, budget maker dan decision maker.

Bayangkan seberapa banyak anggaran tahunan untuk semua program pemerintahan termasuk program pengentasan kemiskinan. Di dalam anggaran yang diajukan dan disahkan sudah pasti terdapat honor bagi pejabat pelaksana.
Jelas hal ini menguntungkan orang-orang yang telah memiliki status pekerjaan yang jelas dan berada di atas garis kemiskinan. Parahnya lagi, banyak program yang anggarannya diselewengkan oleh para atasan.

Source

Kebahagiaan tidak akan habis hanya karena membaginya. kebahagiaan bertambah ketika kamu bersedia untuk berbagi

Surabaya, Siang hari 17 September 2012

This entry was published on September 17, 2012 at 5:54 am. It’s filed under Inspirasi Kehidupan, Opini Jalanan, Torehan Jalanan and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: