Coretan Penghuni Jalanan

Di Tempat Bumi Berpijak Kami Belajar

@SSChildSurabayaIcha, 7 tahun bersama adiknya Iqbal tampak serius belajar beralaskan tikar lusuh

Sore itu cuaca di Kota Surabaya tampak begitu terik, keringat para pekerja seketika bercucuran dibawah sengatan matahari, orang berlalu lalang guna ingin ke tempat tujuan, denyut nadi kehidupan mengalir, banyak kendaraan silih berganti membelah jalanan Kota Metropolitan, kondisi cuaca yang sedikit ekstrem mungkin bagi warga kota Surabaya itu merupakan sesuatu yang baru karena memang sejatinya sudah terbiasa bersahabat dengan panasnya terik matahari, wajar memang bilamana Surabaya termasuk kategori sebagai kota Metropolis. Bukan tidak mungkin sekarang banyak gedung perkantoran menjulang tinggi, perekonomian semakin meningkat hal ini sejalan dengan industrialisasi yang demikian pesat.

Di tengah gempuran globalisasi yang semakin mempersulit keadaan masyarakat termarjinalkan, sekarang timbul permasalahan klasik yakni jurang pemisah diantara Si Kaya dan Si Miskin, Jika dalam Kapitalisme ada kaum Borjuis atau pemilik modal dan Proletar yang biasa disebut buruh, Dimana buruh diasumsikan sebagai sapi perah, bebas dimanfaatkan demi keuntungan, tidak sedikit yang menjadi korban ketidakadilan ambisi kekuasaan segelintir oknum pejabat, tidak sedikit pula terlindas oleh roda perekonomian. Begitulah sedikit gambaran realitas yang kerap kali terlihat di Kota Besar, kota sebagai sumber penghidupan, dulu selalu menjanjikan kehidupan layak.

Jika kita jeli mencermati di setiap sudut perkotaan, rajin blusukan keluar masuk gang dan berkeliaran di tempat-tempat kumuh, tentunya teman-teman dapat menjumpai kaum termarjinalkan atau terpinggirkan, seperti potret yang terjadi selama ini di salah satu pinggiran stren Kali Mas Surabaya, Jembatan Merah. Di tempat sini lah di pinggiran jalan tepat di depan ruko yang belum lama beroperasi, kami mencoba meluangkan waktu setelah jadwal kuliah selesai untuk mengajar anak-anak bangsa yang tak seberuntung kita. Tidak hanya mengajar tapi juga mendidik. Hampir dipastikan setiap hari selasa, rabu, kamis jam 16.00 WIB sore itu pun jika tidak hari libur, biasanya kami berkeliaran disekitar pinggiran sudut jalan tersebut, kami berbagi ilmu, cinta dan harapan kepada mereka anak-anak merdeka.

Sedikit bercerita saja tentang bagaimana ceritanya hingga akhirnya kami memutuskan untuk menempati tempat di pinggir jalan, guna melancarkan aksi kami untuk membantu mencerdaskan anak-anak bangsa, melalui bidang pendidikan. Dahulu di sekitar tempat kami berpijak bersama adik-adik lincah itu, berjajar pemukiman semi permanen tempat bernaung sebagian masyarakat pinggiran kali JMP, tak jauh dari tempat tersebut sekitar 100 meter menjorok ke mulut jalan, berdiri dengan kokoh dan bersahaja tempat ibadah tak lain tak bukan yaitu mushollah kecil, Mushollah yang sedianya sebagai tempat beribadah untuk warga setempat, atas izin warga setempat melalui pemuka tokoh setempat Abah Topa. Kami diizinkan untuk menempati mushollah tersebut untuk mengajar dan berbagi cerita bersama anak-anak bangsa JMP terhitung sejak bergulirnya program pengajar keren @SSChildSurabaya di tahun 2011 bulan September.

Akan tetapi gelagat kabar kurang menyedapkan santer terdengar di telinga saya utamanya ketika mendengar penuturan dari beberapa warga sekitar, singkat kata guna menanggapi laporan surat tembusan dari Pemkot, yang isinya terhitung pada bulan November tahun 2012 yaitu penggusuran di area stren kali JMP, warga yang bermukim secara liar tidak diperkenankan untuk mendiami bangunan tempat tinggal mereka, menindak lanjuti laporan tersebut Satuan Polisi Pamong Praja atau biasa disebut Satpol PP dengan berseragam lengkap menerjunkan sejumlah aparat untuk menggusur bangunan pemukiman ilegal. Tanpa terkecuali bangunan tempat peribadatan umat muslim, Mushollah tempat biasa kami mengajar sore hari bersama anak-anak bangsa JMP.

@SSChildSurabaya

Adopted Photos by Zahra S.

Kini yang tersisa hanya lah sebuah papan nama yang dulu menandakan bahwa disekitar tempat tersebut telah bermukim TPA Mustofa Anak-Anak Jalanan. Tapi untuk saat ini kami tersadar yang lalu biar lah berlalu, kini kita kembali menatap kedepan bagaimana caranya kita bisa kembali mengajar lagi dan menemani mereka dalam suka maupun duka. Tanpa berpikir panjang, akhirnya saya dan teman-teman seperjuangan berinisiatif untuk menggelar tikar seadanya guna bisa mengajar dan mendidik lagi meskipun dalam kondisi serba terbatas, beratapkan langit dan beralaskan tanah jalanan. Di tempat kami berpijak kita belajar. Insya Alloh jika Tuhan masih menghendaki kita akan selalu tetap amanah menjalankan tugas ini. sebagai tenaga pendidik dan pendamping anak-anak bangsa JMP entah sampai kapan.

Berikut saya menampilkan cuplikan kegiatan belajar mengajar bersama anak-anak bangsa JMP, photos was taken 17 April 2013

@SSChildSurabaya@SSChildSurabaya@SSChildSurabaya@SSChildSurabaya@SSChildSurabaya@SSChildSurabaya@SSChildSurabaya@SSChildSurabaya@SSChildSurabaya@SSChildSurabaya@SSChildSurabaya@SSChildSurabaya@SSChildSurabaya@SSChildSurabayaPotret Pengajar Keren @SSChildSurabaya sedang mengadakan kuis harian, di sebelah kiri ada kak @CamelinaFitria dan sebelah kanan mengenakan kerudung merah muda ada kak @Sitsun06 

Long Life Metalheads \m/

                                                                                           Rungkut, Surabaya 18 April 2013                                                                                                                        @Benradit

Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

This entry was published on April 18, 2013 at 9:55 am. It’s filed under Komunitas, Opini Jalanan, Torehan Jalanan and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: