Coretan Penghuni Jalanan

Salam Persahabatan Kami Dari Jalanan

WildaWilda dan Della potret anak-anak merdeka stren kali JMP, 17 April 2013

Izinkan penulis bercerita tentang kisah kami dan mereka, biarkan cerita selalu tertoreh dalam bingkai kesederhanaan sehingga membentuk suatu paragraf yang dapat dibaca, mungkin banyak orang sependapat bahwa cerita yang tertuang dalam tulisan ini adalah sebuah tulisan yang sangat membosankan untuk dibaca, atau pun untuk dicerna tapi setidaknya berikan penulis sedikit ruang gerak untuk mengeluarkan pendapat, izinkan penulis berbagi cerita realita yang terjadi bahwa kehidupan selama ini tak selamanya mudah untuk dijalani bagi masyarakat termarjinalkan namun ketegaran akan kerasnya kehidupan telah banyak mengajari bahwa sejatinya hidup adalah sebuah perjuangan. Mungkin sedikit orang yang mengetahui bahwa terselip cerita yang terlewatkan dari sebuah kota metropolitan, Surabaya. dibalik hiruk pikuk dan hingar bingar kehidupan kota metropolis, semakin pesat dan berkembang hutan beton, tidak banyak orang tahu bahkan menyangka ada secerca harapan dan doa disana.

Bahwa ada denyut nadi kehidupan yang mengalir di sebuah pemukiman yang tak jauh dari pusat kota, mungkin jika Anda menelusuiri jalan di Surabaya Utara, mendengar kata Jembatan Merah, bukan lah tempat yang asing di telinga Anda, tentunya bagi warga yang bermukim di kota Surabaya khususnya. Bahkan di lembaran sejarah tertulis dengan heroik bagaimana pahlawan para pejuang terdahulu dengan gigih dan gagah berani melawan imperialis dan kolonialis di tanah Surabaya, yang akrab dengan sebutan pertempuran 10 November 1945, di jembatan merah yang kokoh ini lah menjadi saksi bisu aksi heroik arek-arek Suroboyo & terbunuhnya jendral Inggris, A.W.S Mallaby di tempat ini lah tersimpan nilai historis tinggi. Lebih dari 50 tahun Indonesia merdeka dari cengkraman penjajah, namun siapa yang mengira dibalik itu semua tersimpan dengan rapat sebuah cerita, sebuah kata reformasi hanya sebuah kata pemanis formalitas, ternyata ada salah satu pemukiman warga semi permanen yang sebagian mendiami bantaran stren kali Jembatan Merah, bukan menjadi ketakutan tersendiri apabila menyusuri kali Masa karena anak-anak sedari kecil sudah akrab bersahabat dengan kotornya kali Mas yang membelah kota Surabaya.

Hal ini sangat kontras berbeda dengan kehidupan yang mereka lakoni, ditengah pesatnya pusat pembangunan dan berdiri dengan megah pusat perbelanjaan, tepat bersebelahan dengan tempat tingal mereka, ternyata masih banyak ditemui manusia yang bertempat tinggal di area tersbut. Bagi-bagi anak-anak yang berdiam diri dan tinggal bermukim di tempat yang jauh dari kata layak bantaran kali Jembatan Merah bukan lah sesuatu yang diharapkan, namun takdir berkata lain, tampaknya anak-anak disana lebih kebal daripada kita menghadapi persoalan kerasnya hidup di tengah kota besar. Namun jika melihat fakta yang ada seakan ada jurang kesenjangan terbuka lebar menganga, tentunya bagi anak-anak tersebut. Bagi kebanyakan anak seusianya pendidikan merupakan hal pokok yang harus didapatkan, namun tampaknya ini tak berlaku bagi mereka.

Ditengah ketidakberesan sistem pendidikan dan sikap acuh tak acuh dari pemerintah terkait, jangankan untuk memikirkan masa depan ataupun guna memperoleh pendidikan yang layak, untuk makan sehari-hari saja, tampaknya harus berpikir keras guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, perbedaan jelas terlihat bilamana anak-anak seumuran mereka sudah mendapatkan apa yang menjadi haknya, mulai dari fasilitas pendidikan yang terpenuhi, untuk urusan gizi pun tercukupi sudah diambang batas kewajaran, bahkan untuk hal kecil saja misalnya dalam hal bermain, tampaknya anak-anak zaman sekarang sudah terbiasa bahkan orang tua membekali buah hatinya sebuah gadget tentunya barang tersebut bukanlah barang yang murah, berbekal kecanggihan di era teknologi, setiap informasi dilahapnya, jika anak-anak saat ini sudah akrab bermain di mal-mal, mana kala musim penghujan tiba anak-anak stren kali JMP juga tak ketinggalan mereka kerap kali berkeliaran di area mall JMP tentunya bukan sekedar bermain dan menghabiskan uang jajan, akan tetapi menawarkan jasa penyewaan payung bagi pengunjung mall JMP, tak sedikit yang menawarkan jasa membawa belanjaan pembeli yang datang silih berganti.

Bagi anak-anak penghuni bantaran kali JMP membantu orang tua adalah rutinitas yang harus dijalani setiap harinya hal ini untuk menambah pundi-pundi penghasilan, mereka menyadari sepenuhnya bahwa pendapatan yang dihasilkan orang tua mereka hanya cukup untuk memenuhi makan sehari saja, tidak untuk yang lain bahkan terkadang kita juga merasa prihatin apabila melihat realitas yang terjadi disana mereka tinggal jauh dari kata layak, mohon maaf kediaman yang mereka tinggali tak ubahnya seperti gubuk-gubuk reot sederhana namun bersahaja. Sejak mulai peristiwa tersebut kami dan kawan-kawan seperjuangan tersentuh hatinya melihat bagaimana perjuangan hidup oleh anak-anak merdeka tersebut, semenjak kejadian tersebut kami berpikir mengapa kita tidak membuat suatu tempat belajar bagi mereka.

Harapan kami hanya satu ingin membantu mereka terlepas dari belenggu ketidaktahuan akan pentingnya pendidikan, seperti yang tercermin bahwa fungsi pendidikan sejatinya yakni mendidik dari yang tidak tahu apapun menjadi lebih tahu. Semoga langkah yang kami ambil selalu diridhoi oleh Allah SWT dan diberikan spirit motivasi yang membara untuk membantu saudara kami yang mengalami kesusahan, dengan cara yang kami tempuh, harapan kami sesederhana pemikiran yaitu bagaimana ana-anak merdeka JMP ini mendapatkan haknya yakni ketersediaan akan akses pendidikan  layak, menggapai asa dan masa depan yang gemilang meskipun kini hanya beralaskan  tikar yang baru saja kami beli menggantikan tikar alas yang terdahulu lusuh dan tak layak digunakan.

JMPDitempat ini dahulu berdiri Mushollah sederhana bersahaja namun kini rata dengan tanah, Jalan panggung Stren kali JMP Photo diambil Agustus 2011JMPTempat sederhana namun memberikan cerita jenaka disetiap liku perjalanan kamiJMPDisini kami merajut asa demi mendapatkan pendidikan, tepat  berpijak kami belajar bagaimana kita menghargai sesama & kehidupan iniJMPPotret salah satu adik binaan @SSChildSurabaya sedang belajar, photo diambil Juni 2012JMPNamun kini kami dengan terpaksa harus berpindah tempat di pinggir jalan, merajut asa harapan mendapatkan pendidikan karena Musholla yang kami diami statusnya illegal, dengan berat sebelah harus disama ratakan dengan tanah pada bulan November 2012JMP

Rungkut, Surabaya 06 Mei 2013

@Benradit

Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Kamu adalah agen perubahan. Kamu adalah manusia yang tercerahkan. Kamu, adalah satu dari sekian orang yang punya waktu untuk memikirkan sesama.
This entry was published on May 6, 2013 at 8:19 am. It’s filed under Inspirasi Kehidupan, Komunitas, pendidikan and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: