Coretan Penghuni Jalanan

Ketika Pendidikan Menjadi Barang Mahal Di Negeri Ini

DSC_0918Via 7 tahun, Potret Anak Bangsa Termarjinalkan belajar didampingi Kak Sundari

Jika membicarakan pendidikan suatu bangsa  tentunya menarik untuk dikupas, sedari dulu pendidikan menjadi suatu tolak ukur kemajuan atau kemunduran suatu bangsa & negara, pendidikan menjadi suatu barang kebutuhan pokok bagi setiap warga negara yang mendiami suatu wilayah, entah itu di negara maju & berkembang, tanpa ada satu komponen pendidikan mustahil suatu negara dapat menunjukkan keeksistensiannya dalam tatanan ruang lingkup global. Hal ini menandakan bahwa pendidikan itu penting untuk menjawab segala problematika & tantangan zaman yang menuntut selalu ada perubahan seperti di era saat ini yang cenderung mengglobal.

Bagaimana dengan wajah pendidikan Indonesia saat ini ? apakah sudah ada pertanda mengarah ke pendidikan yang layak atau dapat dikatakan baik. Lagi-lagi itu kembali ke penilaian masyarakat dan tentunya Anda sendiri. Berbagai contoh bangunan sekolah yang memprihatinkan dan juga tingkat kepedulian masyarakat terhadap pendidikan agak minim di daerah terisolir, menjadi suatu PR tersendiri bagi Pemerintah sekarang ini dan pemerintahan yang akan mendatang.

Secara konstitusional Indonesia di dalam konstitusi peraturan perundang-undangan dasar 1945 menjamin sepenuhnya hak pendidikan bagi warga negaranya tanpa ada pengecualian. Namun jika melihat fakta yang terjadi di lapangan banyak sekali ditemukan kasus pelanggaran sebagai contoh konkritnya adalah banyak kalangan menilai utamanya datang dari orang tua siswa, mereka beranggapan pendidikan Indonesia sekarang ini dirasa diskriminatif terhadap mereka yang memiliki tingkat perekonomian yang rendah.

Hanya orang yang berasal dari kaum menengah yang dapat mengenyam pendidikan yang layak, hal ini sangat kontras berbeda apabila kita membandingkan mereka yang datang dari kalangan borjuis, orang  tua siswa yang masuk dalam kategori “The Have” dengan orang miskin, bagi sebagian mereka yang memiliki modal yang mencukupi secara otomatis untuk menggiring anaknya ke masa depan yang gemilang, orang tua siswa tersebut tanpa segan memberikan suatu kemudahan bagi anaknya, memilih untuk melanjutkan studi ke luar negeri atau lebih mempertimbangkan bersekolah dalam negeri di sekolah atau universitas favorit yang tentunya tak membutuhkan biaya yang sedikit. Dengan segala fasilitas pendidikan berkualitas yang memadai orang tua mereka tanpa berpikir panjang mendorong anaknya untuk bersemangat menggapai masa depan salah satunya dengan jalan pendidikan.

Namun hal ini senada sangat berbeda sekali bagi mereka orang tua siswa yang berpenghasilan rendah, dengan segala keterbatasan yang dimilikinya tampaknya mereka bersusah payah guna memenuhi tuntutan & kewajiban menyekolahkan anaknya. Tidak sedikit elemen masyarakat mengeluh mendapati bahwa biaya untuk mengenyam pendidikan di Indonesia melambung tinggi, dirasa tak menyanggupi biaya pendidikan yang terkesan mahal. Pendidikan kita saat ini terlihat dipermukaan seperti ajang komersialisasi, dimana hanya orang yang berkantong tebal yang dapat memperoleh pendidikan yang berkualitas.

Belum lagi ditunjang dengan fasilitas yang baik pula, sedangkan yang miskin harus meminta belas kasihan terlebih dahulu atau menggelar demonstrasi supaya biaya pendidikan diturunkan baru setelah itu mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Sepertinya pembukaan UUD 1945 hanya sebagai formalitas saja yakni “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan bernegara” bukan kah itu sudah menjadi point terpenting landasan yakni menyelenggarakan sistem pendidikan yang tak diskriminatif. Fakta berbicara lain kini membicarakan mutu & kualitas harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mendapatkan itu semua.

Pemerintah sebagai suatu lembaga yang bertanggung jawab secara penuh dalam menangani permasalahan pendidikan sudah  sepantasnya menyelenggarakan pendidikan bagi warga negaranya secara adil dan merata tanpa adanya suatu tindakan yang berbau komersiaisasi & diskriminatif. Secara normatif  jamina pendidikan tertuang dalam konstitusi dasar Republik Indonesia negara lah yang menyanggupi dan mengiyakan untuk memenuhi kewajiban pendidikan bagi setiap warga negaranya. Persoalan-persoalan mendasar seperti akses terhadap pendidikan, tingginya angka putus sekolah dan minimnya sarana sekolah masih menjadi momok bagi dunia pendidikan kita.

Jikalau pendidikan terus dikomersialisasikan dalam skala tingkatan pendidikan berlevel dasar hingga perguruan tinggi terus menerus bisa jadi mendatang malah berorientasi ke matrelisme, cenderung mengutamakan adanya kwantitas daripada mutu kualitas tujuan pendidikan itu sendiri. Sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 pada pasal 4 di ayat pertama “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.” Penjelasan dalam UU tersebut harus kita pandang sebuah visi pendidikan Indonesia yang berkeadilan, yang bebas diskriminasi terhadap siapapun dan dimanapun selama berada di atas tanah Indonesia.

Berangkat dari rasa keprihatinan akan dunia pendidikan yang terkesan amburadul dimana keterlibatan sistem pendidikan yang keliru, hingga mengakibatkan biaya pendidikan mahal, yang tentunya berdampak tingginya angka putus sekolah. Ada suatu komunitas social movement menarik perhatian saya yaitu Save Stree Child Surabaya yang concern menangani anak-anak termarjinalkan khususnya di area kota Surabaya, melihat dari namanya  saja sudah terlihat mencirikan tentang anak jalanan. Berawal dari rasa kemanusiaan & muak akan Pemerintah yang bersikap tak ubahnya seperti pemegang tampuk kekuasaan seenaknya memutuskan. Belum lama memang baru terbentuk pada bulan Juni 2011, umurnya bisa dibilang masih kategori komunitas yang muda. Namun projectnya sudah membuat suatu gebrakan sebut saja Program pengajar keren, usut punya usut program ini memang ditujukan untuk sharing atau berbagi edukasi ilmu pengetahuan bagi anak-anak termarjinalkan Surabaya.

Hingga sampai saat ini sudah ada 4 lokasi yang menjadi tumpuan untuk berbagi ilmu & pengetahuan, diawali di stren Jembatan Merah, Ambengan di pemukiman jalur rel perkeretaapian yang tak terpakai, traffic light Kusumah Bangsa, depan SMA 5 Surabaya dan terakhir di Taman Bungkul. Sebenarnya goal utama menyasar ke anak-anak jalanan namun seiring dengan laju perkembangan mulai sedikit bergeser, karena ternyata masih banyak yang memerlukan uluran tangan terampil kita. Mencoba belajar bagiamana menyediakan pendidikan non formal mulai dari usia TK-SMP tetapi juga menyelenggarakan keterampilan seperti membuat suatu kerajinan tangan. Dilihat dari latar belakang pendidikan anak-anak bangsa JMP syukur Alhamdulilah, mayoritas dapat dipastikan bersekolah, namun juga ada sebagian yang tak bisa melanjutkan pendidikan. Jadi disini kami hanya memberikan ekstra bimbingan belajar buat mereka.

Tidak ada sesuatu hal yang berbau mewah disana, jangan membayangkan atau menyamakan seperti tempat belajar pada umumnya di bangku sekolahan, karena memang disana memang dengan segala keterbatasan fasilitas sumber dana yang limit, dahulu sebelum ada insiden penggusuran secara paksa November 2012 berdiri Mushollah di bantaran kali Jembatan Merah sebuah tempat yang tampak kusam dari luar namun di dalam memberikan kesejukan. Atas izin warga setempat melalui pemuka adat setempat melalui Abah Topa, kami dizinkan untuk mendiami tempat nan suci tersebut untuk mengajar. Selain sebagai tempat beribadah bagi kaum muslim yang tinggal di area tersebut tapi juga tempat kami mengajar anak-anak bangsa JMP, jadi multi-fungsi.

Namun keadaan ini diperburuk mana kala sesudah insiden penggusuran tersebut, anak-anak yang biasanya kami ajak interaksi sosial secara langsung cenderung sudah tidak berorientasi lagi untuk belajar seperti kehilangan spirit motivasi belajar dengan berat sebelah mau tida mau harus bergeser dari lokasi semula yang beratap kini belajar di pinggir jalan ditengah lalang kendaraan yang melintas tidak jauh dari tempat lokasi dimana Mushollah digusur hanya berjarak 50 meter. Belajar dalam kondisi serba terbatas dengan minimnya fasilitas. Alhasil jika sore hari menjelang kulit coklat kami tersengat di atas debu jalanan

Ini merupakan suatu fenomena yang menarik untuk ditelaah itu adalg sedikit gambaran yang mengisahkan potret kelam dunia pendidikan kita. Ternyata masih banyak ditemui suatu fakta yang mengejutkan bahkan menyayat hati, Bahwa begitu banyak ana-anak usia sekolah dasar yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan dikarenakan terbatasnya sumber dana & minimnya pemasukan pendapatan keluarga hingga mengharuskan mencari nafkah demi keluarga. Kita sebagai masyarakat awam yang tidak mengerti, merasa sudah bosan akan birokrasi, seolah-olah dijejali oleh beragam retorika disuguhi oleh kaum birokrat, mereka lebih suka mengobral janji-janji dan sumpah serapah akan membebaskan biaya pendidikan namun nyatanya kini kita lihat kenyataanya.

Kita kerap kali mendengar sekolah roboh karena tak mampu lagi menanggung beban, atau anak terpaksa putus sekolah karena ketertiadaan dana, atau bahkan peristiwa yang memilukan seoang guru mengajar di 6 kelas. Pendidikan yang layak tampaknya jauh dari angan-angan, dirasa sulit dinikmati oleh kebanyakan masyarakat Indonesia Pada akhirnya, walaupun pendidikan adalah hak setiap warga negara namun pemenuhannya sangat tergantung pada komitmen negara. Kenyataan-kenyataan yang ada menunjukan bahwa negara belum dapat memenuhi hak atas pendidikan bagi seluruh warga negara. Hal tersebut tentu saja harus menjadi cambuk bagi bagi negara, mengingat pendidikan selain sebagai Hak asasi warga negara juga merupakan hal yang sangat essensial dalam membangun karakter dan moral bangsa. Kita selaku warga negara juga memiliki kewajiban mendorong Negara untuk memenuhi kewajibannya sehingga dapat terselenggara pendidikan yang layak bagi seluruh warga negara Indonesia.

23.05 WIB Sidoarjo, 15 Mei 2013

@Benradit

Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Kamu adalah agen perubahan. Kamu adalah manusia yang tercerahkan. Kamu, adalah satu dari sekian orang yang punya waktu untuk memikirkan sesama.
This entry was published on May 15, 2013 at 4:25 pm. It’s filed under Inspirasi Kehidupan, Komunitas, Opini Jalanan, pendidikan and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: