Coretan Penghuni Jalanan

Pentingnya Pendidikan Moral Untuk Menangkis Budaya Korupsi

DSC_0913Iqbal 5 tahun, anak marjinal JMP si kecil yang tampak menggemaskan

Beberapa hari yang lalu tanpa disengaja saya terlibat pembicaraan menarik dengan teman-teman di salah satu kedai tempat makanan yang termasuk dalam area Taman Bungkul, setelah menyelenggarakan serangkaian aksi kegiatan sosial, kami mencoba meluangkan waktu sekedar untuk mengisi perut yang lapar, sembari menikmati seduhan kopi hitam, sepintas tidak ada yang berbeda, jika kita mencermati umumnya orang yang sedang nongkrong dapat dipastikan ada topik yang menjadi pembahasan, entah mempersoalkan tentang aktivitas sehari-hari, trending topic, atau isu yang berkembang saat ini. Nah secara kebetulan pada saat itu di sela-sela memanjakan diri dengan secangkir kopi hangat, kawan saya @Oiy41 memulai pembicaraan menyangkut masalah pendidikan, sementara itu saya hanya menanggapinya dengan santai, seolah-olah tidak mengerti apa yang dibicarakan, disana saya mencoba menjadi audience yang baik mendengarkan setiap pembicaraan, kami berempat berkomplot dalam satu meja membentuk suatu fromasi seperti layaknya sebuah diskusi tentunya dibumbuhi cerita konyol namun menghibur.

Sepertinya menarik demikian saya berucap, sebenarnya tampak di permukaan datar sepele, hanya ocehan tentang masalah pendidikan di Indonesia dengan sistem. Kurang lebih seperti ini petikan pembicaraan yang dapat saya tangkap dari ocehan mereka, Jika berpikir fungsi pendidikan itu untuk apa? mencerdaskan kehidupan bangsa bukan? namun kini bila melihat fenomena yang merebak, ditemui fakta yang mengejutkan zaman sekarang orang yang berwatak cerdas acap kali berbuat kotor, maksudnya pengertian kotor itu sendiri ialah berbuat tidak sesuai etika bahkan melanggar normatif tatanan sosial di Indonesia, seperti melakukan aksi tindakan kejahatan korupsi, coba sekarang lihat di media pertelevisian maupun di surat kabar, dapat dipastikan selalu ada pemberitaan yang berbau unsur KKN (Korupsi, Kolusi & Nepotisme) baik itu dilakukan dalam sektor formil pemerintahan dan sampai unit terkecil dalam elemen masyarakat itu sendiri. Tampaknya korupsi adalah bagian yang tak terpisahkan dari budaya Jahiliyah klasik dibalut modernitas, bahkan sudah menjadi budaya yang mengakar & melekat kuat dalam setiap sendi kehidupan, namun saya mempercayai di luar sana masih banyak manusia yang tangannya bersih.

Usut punya usut, cerita punya cerita, jika kita mempersoalkan masalah korupsi tentunya tidak ada habisnya, entah itu dari generasi terdahulu atau generasi yang aka mendatang, karena kita juga tidak bisa menampik adanya sutau fakta yang memilukan bahwa negeri ini menjadi ladang subur bagi koruptor, negeri ini seakan terkoyak oleh serangkaian korupsi yang masif yang notabene banyak dilakukan oleh aparatur negara, baik itu mereka yang duduk di parlemen pemerintahan. Suatu petanyaan yang menggelitik, kapan kah budaya korupsi berakhir dan langkah solutif seperti apa yang tepat untuk menarik benang merah permasalahan korupsi ini, bisakah dengan bermodalkan pendidikan kita bisa memutus mata rantai budaya jahiliyah modern korupsi ini? atau pendidikan menjadi ujung tombak dalam menangkis & membantu pemberantasan korupsi.

Perubahan dari dasar, yaitu dengan mengubah perilaku masyarakat. Dimulai dari generasi mudanya, dipupuk melalui dunia pendidikan di bangku sekolah. Pemberantasan korupsi tidak boleh seperti sebuah teater. Tetapi, kita harus sungguh-sungguh membersihkan negeri ini dari para pelaku koruptor. Bagaikan singa lapar yang tidak ada puasnya. Demi kepentingan masyarakat yang mengais-ngais rezeki tanpa mempedulikan waktu. Salah satu langkah untuk memerangi korupsi yang sudah mengurat akar di Indonesia ini adalah dengan memberikan pendidikan kejujuran sedini mungkin pada seluruh manusia Indonesia. Mulai dari usia dini. Dan orang yang paling berperan dalam pendidikan anti-korupsi ini adalah keluarga, guru dan lingkungan.

Tentunya pendidikan pertama adalah tingkat keluarga dan sekolah. Pendidikan moral dan disiplin pribadi perlu mulai diterapkan sejak usia 4hingga 13 tahun. Dalam hal ini, para guru dan orangtua harus mampu memanfaatkan potensi kejiwaan anak. Sifat-sifat yang mesti dipupuk dalam diri anak pada usia tersebut antara lain kesederhanaan, hemat, tidak berperilaku boros, kemampuan mengekang diri, tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang materialistis, menjunjung tinggi kejujuran dan berperilaku jujur, serta tidak mendewakan uang dan materi. Selebihnya, orangtua juga harus benar-benar menanamkan budaya anti-korupsi. Untuk memberi contoh, otomatis orangtua juga harus memulai budaya anti-korupsi itu. Misal dengan memulai dari hal-hal yang kecil seperti tidak boleh menyontek, jangan korupsi waktu dan berusaha bertindak jujur dalam segala hal

Tindak korupsi yang kerap terjadi di dunia pendidikan adalah jual-beli “bangku kosong”. Terutama terjadi di sekolah-sekolah negeri atau favorit mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Praktik ini memang sangat sulit ditembus melalui cara normatif. Sekolah-sekolah tersebut kerap mengeluarkan kebijakan sendiri terkait test masuk. Ujian-ujian yang bersifat prerogatif, berimplikasi pada terjadinya kecurangan yang berujung pada jual beli bangku kosong itu. Selain menjualbelikan bangku, masih banyak lagi praktik korupsi yang dilakukan di dunia pendidikan, seperti memanfaatkan dana BOS dan pengadaan buku, serta les tambahan.Institusi pendidikan seperti sekolah justru menjadi salah satu tempat tumbuh suburnya praktik korupsi. Setidaknya, tergambar dari maraknya pungutan yang dibebankan kepada orangtua murid. Mulai guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha, malah pengawas hingga pegawai dinas pendidikan, dengan latar belakang, penyebab, serta modus yang berbeda, secara kolektif ataupun perseorangan

Institusi pendidikan malah mengajarkan bagaimana cara melakukan korupsi. Kondisi tersebut sangat ironis, setiap hari kepada murid diajarkan nilai-nilai anti-korupsi, tapi ketika keluar dari ruang kelas atau malah di dalam kelas, mereka menyaksikan bagaimana korupsi dipraktikkan. Celakanya lagi, biasanya pelajaran yang paling diingat oleh murid bukan diajarkan di ruang kelas, tapi yang dipraktikkan dalam keseharian di sekolah atau lingkungannya.

Karena itu, pendidikan anti-korupsi tidak akan berarti apa-apa, jika institusi pendidikan seperti sekolah yang akan mengimplementasikan masih belum bersih dari praktik korupsi. Upaya untuk membersihkannya jauh lebih berat dibanding menyusun kurikulum anti-korupsi. Sebab, korupsi sudah sangat sistemik, dengan beragam faktor. Bukan rahasia lagi, jika praktik korupsi di sekolah juga memiliki korelasi dengan lembaga di atasnya, seperti dinas pendidikan. Mereka menikmati keuntungan melalui setoran-setoran atau jasa tanda terima kasih, malah tidak sedikit yang aktif menjadi bagian dari mata rantai korupsi di sekolah. Sudah seharusnya pendidikan yang baik menjadi peran sentral pembentukan karakter jujur pada murid. Namun anehnya, sekolah yang ada saat ini umumnya menekankan sisi komersialisme semata. Oleh karena itu, pemerintah harus dengan serius menciptakan iklim pendidikan yang berkualitas dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip kejujuran di dalamnya.

 

21.28 WIB Sidoarjo, 16 Mei 2013

@Benradit

Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Kamu adalah agen perubahan. Kamu adalah manusia yang tercerahkan. Kamu, adalah satu dari sekian orang yang punya waktu untuk memikirkan sesama.
This entry was published on May 16, 2013 at 2:50 pm. It’s filed under Inspirasi Kehidupan, Komunitas, Opini Jalanan, pendidikan and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: