Coretan Penghuni Jalanan

Sore Itu Di Mushollah Anak-Anak Ambengan Meretas Mimpi

DSC_0858Potret Adik-Adik Ambengan Tampak Serius Belajar

Sore itu tidak ada sesuatu hal yang berbeda bagi anak-anak yang bermukim di bantaran rel Gubeng, mereka biasa meluangkan waktu belajar bersama kakak-kakak pengajar keren, setiap akhir pekan jatuh hari minggu mereka selalu ingat akan kewajibannya yakni belajar, bertempat di Mushollah di area Ambengan. Bersyukur warga setempat berbaik hati meminjamkan tempat peribadatan untuk menjadi lokasi belajar, untuk waktu sementara. Di kala waktu beranjak senja  jam 16.00 WIB, disela-sela waktu senggang saya mencoba meluangkan waktu untuk datang mengajar di area Ambengan ditemani adik-adik nan lucu. Meskipun kenyataannya jika boleh berkata jujur saya jarang sekali singgah untuk mengajar di lokasi satu ini. Jarak antara tempat mengajar dan lokasi Gallery tempat saya berpijak bisa dikatakan tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk membelah kemacetan Kota Surabaya. Bagaimana tidak kisaran pukul 16.00-18.00 WIB seperti itulah klimaks kemacetan mencapai suatu titik, banyak para pekerja kantoran yang lalu lalang berkeliaran melintasi jalanan dengan kuda besinya.

Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui dimana itu jalan Rel Ambengan, tak sedikit pula yang tahu lokasi tersebut, mungkin bagi mereka yang memiliki kediaman di area Gubeng bisa dibilang sudah hapal dimana tepatnya lokasi tersebut. Padahal jika ditinjau dari segi geografis, tempatnya sangat strategis hanya beberapa ratus meter dari jalan utama Ambengan arah Gelora 10 November. Nah disini yang membedakan ada semacam patokan bekas rel kereta api persero tak terpakai yang dibiarkan usang lapuk termakan usia. Akses jalan kesana agak sedikit bergelombang karena memang salah satu tiket menuju jalan kesana ialah harus melewati pinggiran bantalan kayu bekas rel kereta api belum lagi ditambah dengan median jalan yang sempit, alat transportasi mobil pun tidak bisa sembarangan masuk kesana. Jadi hanya pengendara bermotor & pejalan kaki yang bisa mengakses jalan tersebut.

Langsung saja sesampai disana, saya memakirkan kendaraan roda dua, tidak jauh dari area tersebut lantas saya disambut dengan sapaan hangat dari penduduk lokal setempat, terlihat banyak sekali anak kecil yang bermain disitu, Ada yang bermain layang-layang. Sesosok ibu-ibu berkata kepada anak-anak kecil yang asik bermain tersebut, mungkin barang kali buah hatinya. Ibu itu berkata “Le Tole iku loh dontoken kakak-kakak’e wes teko? ayo podo bebarengan sinau nang mushollah.” dengan logat dialek Jowo Suroboyoan yang kental. Kurang lebih seperti ini definisi dari kata diatas ” Nak untuk sebutan laki-laki, itu coba lihat kakak-kakak sudah datang, ayo pada belajar bareng di Mushollah. Tanpa pikir panjang saya menyapa ibu tadi, Assalamualaikum Bu. Beliau lantas menjawab Waalaikumsalam, “Titip anak saya ya mas”. Kemudian saya menjawab  Inggih, iya Bu. Dengan seruan tersebut saya mengajak kepada anak-anak yang asik bermain tersbut untuk mau belajar di Mushollah. Tidak salah memang banyak orang luar jawa yang bermukim di Surabaya, menganggap orang jawa itu ramah dan cenderung terbuka dengan orang baru.

Seperti hari sebelumnya ketika kegiatan belajar dimulai kakak-kakak memulai pembicaraan melalui kak @Chintya_Janise selaku Korwil Pengajar keren Ambengan berkata kepada adik-adik yang belajar di Mushollah tersebut. Ada baiknya sebelum belajar kita berdoa terlebih dahulu, dengan membaca surat Al-Fatiha. Konsepnya belajarnya diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok sesuai dengan urutan perkelas, jadi kakak pengajar dibekali satu buah papan tulis kecil & spidol untuk membantu adik-adik memecahkan persoalan dalam belajar. Jadi anak-anak dituntut untuk mampu memecahkan satu soal misalnya matematika lantas disaksikan teman-temannya didepan.  Jika anak tersebut tidak bisa mengerjakan soal nah disini kakak pengajar mendorong anak tersebut untuk mengatasi soal tersebut agar lebih mandiri istilahnya tidak menggantungkan diri pada temannya mengharap kerja sama menyontek.

Saya selalu berkeyakinan setiap anak bangsa biasanya lahir dengan berbagai potensi. Namun bukan hal yang mudah untuk bisa melihat potensi yang ada pada diri anak. Bukan hal yang mudah pula untuk bisa mengarahkan anak sesuai potensi yang ia miliki. Banyak orang tua yang memaksakan anak mengikuti berbagai les atau kursus, agar menjadi seperti yang mereka mau. Menjadi penari balet, pemain piano, atau menarik perhatian saat menjadi model. Sementara belum tentu potensi anak ada di sana. Saya memahami banyak sekali potensi yang dimiliki oleh anak-anak Ambengan satu ini, Tampaknya mereka begitu piawai menjawab setiap pertanyaan yang saya lontarkan, misalnya dalam kaitannya dengan sejarah Indonesia, ada satu anak yang menarik perhatian saya karena dia hafal dalam segi kognitif, ada juga yang tampak cekatan dalam memecahkan persoalan matematika, ada segelintir anak hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 menit untuk menjawab meskipun itu soal masuk kategori sulit. Pernah suatu ketika saya melihat ada salah satu adik-adik dari Ambengan juga tampak piawai dalam olah gerak tubuh seperti break dance tentunya belajar secara otodidak.

Jadi saya menghimbau kepada siapapun itu terlebih kepada orang tua bersikap realistis terhadap potensi diri dan potensi si anak. Boleh saja mengoptimalkan kelebihannya, tapi juga mengakomodasi kelemahannya. Tidak perlu memaksakan cita-cita kepada anak, atau memasukkannya ke sekolah khusus supaya dianggap jenius hanya demi gengsi, padahal anak sulit beradaptasi benar mengenali bakat dan minat anak, dan mengembangkannya secara proporsional. Tidak ada baiknya mengelabui diri sendiri dengan terus memaksakan cita-cita (yang dikehendaki orangtua) pada anak. Bila merasa perlu, orang tua bisa berkonsultasi dengan psikolog untuk mengetahui kemampuan dan bakat dan minat anaknya.

Potret Dokumentasi Kegiatan Belajar di Area Ambengan

DSC_0854DSC_0857DSC_0856DSC_0855DSC_0860DSC_0861DSC_0859DSC_0864DSC_0866DSC_0867DSC_0868DSC_0869DSC_0870DSC_0871DSC_0872DSC_0873DSC_0874DSC_0876

Studplay Coffee & Bistro, Bawean, Surabaya                                                                     20.39 WIB 2 Juni 2013

@Benradit

Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Kamu adalah agen perubahan. Kamu adalah manusia yang tercerahkan. Kamu, adalah satu dari sekian orang yang punya waktu untuk memikirkan sesama.
This entry was published on June 2, 2013 at 1:43 pm. It’s filed under Inspirasi Kehidupan, Komunitas, pendidikan, Realitas Jalanan and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: