Coretan Penghuni Jalanan

Sebuah Buku Bangkitkan Papua & Donasikan Buku Anda di @BukuntukPapua

poster-2-copy3                                                                                    Potret anak-anak di pedalaman Papua

Ada sesuatu hal yang  menarik sekaligus memilukan di Bumi Cenderawasih Papua, tanah yang terkenal subur akan kenampakan alam seola-olah menunjukkan daya pikatnya dan bumi belahan timur Indonesia ini memiliki sejuta potensi daerah yang belum banyak terjamah oleh tangan dingin manusia, banyak orang yang beranggapan bumi Papua bisa dikatakan sebagai Surga dunia, setidaknya itu menurut opini mereka, ditunjang dengan keindahan alam yang menarik banyak wisatawan, tampaknya itu menimbulkan daya tarik tersendiri, orang-orang berkulit hitam berambut kriting yang masih memegang adat istiadat, ramah dan terbuka dengan orang baru.

Namun siapa yang menyangka dibalik daya tarik wisata yang begitu luar biasa, ada hal kontras yang berbeda, perbedaan itu jelas mana kala hampir di setiap pelosok daerah Papua masih belum tersedia fasilitas penghubung berupa jalan yang memadai, alhasil daerah tersebut menjadi terisolir karena akses jalan transportasi tidak sepenuhnya menyentuh hingga pelosok pedalaman, sebut saja di daerah Kabupaten Sorong, untuk mencapai lokasi tersebut dibutuhkan waktu tempuh relatif lama, hal ini dikarenakan terputusnya jalur akibat kontur tanah belum beraspal sehingga berakibat lambatnya akses menuju kesana setidaknya itu lah potret yang menggambarkan daerah tersebut ketika saya berkunjung beberapa tahun silam.

Ada kisah menarik di sela pembicaraan diantara kami di salah satu kedai cafe di daerah Surabaya Timur, di tengah gathering tersebut saya terlibat pembicaraan ringan dengan teman-teman kebanyakan dari Papua, sebut saja teman saya Alfred, Jefrey, keduanya tercatat sebagai mahasiswa aktif di salah satu perguruan tinggi swasta Surabaya. Diawali dengan pembicaraan singkat asal kampung halaman mereka di tanah nan indah di bumi cenderawasih, hingga sampai topik pendidikan di tanah Papua sendiri, sampai isu sensitif sekali pun yakni keamanan yang kembali bergejolak.

Salah satu masalah serius di tanah Papua sampai detik ini belum teratasi dengan baik adalah masalah ketidaktersediaan tenaga pengajar di Papua begitu ucapan yang terlontar dari mulut Frank, selain sebagai mahasiswa ia juga seorang atlet lari nasional yang berasal dari Papua ia tercatat sudah beberapa kali mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia Internasional sebuah prestasi yang membanggakan tentunya. Saya masih ingat betul ketika ada salah satu teman menceritakan bagaimana keadaaan realita yang terjadi disana setidaknya ini menjadi gambaran tentang wajah pendidikan disana,

Jangankan untuk mengenyam pendidikan yang layak seperti di kota besar pada umumnya, masalah jumlah tenaga pengajar sudah menjadi masalah klasik setia menghantui anak-anak pedalaman Papua, beruntung bagi mereka yang berdiam diri di kota besar, kebutuhan akan pendidikan terpenuhi. Coba bandingkan dengan sebagian mereka yang tinggal di perbatasan pedalaman jauh dari hingar bingar perkotaan, mereka seakan sudah terbiasa belajar tanpa kehadiran seorang guru di kelas, buku-buku pendidikan yang lapuk usang termakan usia oleh di wilayah perbatasan masih banyak ditemukan anak-anak yang buta huruf.

Ini kisah menarik mana kala serdadu militer di wilayah perbatasan, selain menjaga kedaulatan wilayah NKRI ternyata ada tugas besar yang menantinya yakni mencerdaskan anak bangsa adalah Satgas Yonif Linud 330/TD pahlawan tapal batas dengan segala kerendahan hati membantu mencerdaskan anak-anak perbatasan di Merauke. Pos Satgas 330 yang anggotanya turut mengajar di antara lain : Pos Moso mengajar di SDN Moso, Pos Ujung Karang mengajar di SD Ujung Karang,Pos Scopro mengajar di SD Yayasan Pendidikan Kristen Scopro, Pos Wambes mengajar di SD Wambes Bawah, setiap malam memberikan pelajaran tambahan untuk anak-anak Kampung Inti 4 di aula pos. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah tentunya.

Entah sampai kapan masalah pendidikan Papaua menjadi perhatian serius dari pemerintah pusat dan segera tercapai titik terang dari segala jenis permasalahan, persoalan-persoalan mendasar yang membelit anak-anak Papua, termasuk potret pendidikan sekolah dasar. Ada pertanyaan yang timbul dari pikiran sampai kapan anak-anak Papua terbebas dari belenggu rantai kebodohan ? sudah beberapa puluh tahun silam Indonesia merdeka terbebas dari imperalisme barat. Namun kini perntanyaan mucul apakah pendidikan sepenuhnya merata dapat dinikmati oleh mereka kaum yang bermukim di daerah terpencil.

Ketidakmerataan akses pendidikan di pedalaman sudah dapat dipastikan menjadi suatu  permasalahan klasik yang belum terurai hingga sampai detik ini. Entah sampai kapan kebutuhan akan pendidikan anak-anak Papua tercukupi. Di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahkan sudah jelas tercantum bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak tanpa terkecuali. Dalam realitasnya masih banyak anak-anak Papua yang belum merdekan akan ilmu pengetahuan. Masalah-masalah besar membelenggu pendidikan di Papua dan mengancam potensi anak-anak Papua untuk tumbuh sebagai insan-insan yang merdeka.

Belum lama ini saya dan teman-teman sudah menyepakati membentuk sebuah Social Movement yakni @BukuntukPapua terhitung sudah 6 bulan berdiri bisa dikatakan masih seumur jagung untuk seukuran komunitas ini, diawali di Jakarta oleh kak @Dayurifanto pria kelahiran Nabire ini adalah salah satu founder bagi komunitas ini melalui tangan terampil & kepala dinginnya hingga pada akhirnya mampu menggalang dukungan dari penjuru negeri sejauh ini ada 14 kota yang turut berpartisipasi dalam pendistribusian buku edukatif untuk anak-anak pedalaman Papua.

Saya selalu berkeyakinan bahwa Tuhan itu selalu menyertai di setiap langkah orang-orang nekat yang hendak membuat suatu perubahan,  dari serangkaian langkah kecil yang membawa suatu dampak besar, setidaknya itu yang bisa menjadi bahan pertimbangan. Dari perkumpulan sederhana di salah satu cafe di Mall Surabaya, dari perkenalan singkat. Saya dan beberapa teman lain sudah menyepakati membuat suatu keputusan akan membuat suatu wadah berbagi buku yang mana selajutnya akan didistribusikan untuk anak-anak pedalaman Papua, beralamatkan akun sosial media @BupSoerabaya kini drop off penyaluran buku hadir di Kota Pahlawan. Kumpul buku-inspirasikan rumah baca, tumbuhkan budaya baca dengan aksi nyata untuk Papua

Latar belakang terbentuknya @BukuntukPapua berawal dari keinginan dari kak@Dayurifanto untuk membantu sahabat baik di Nabire  (Bpk Longginus Pekei – seorang guru dan pegiat PAUD di Nabire) Papua yang ingin membuat sebuah rumah baca, tetapi tidak memiliki buku yang memadai dengan beragam tema. . Sehingga pada awal gerakan pengumpulan buku hanya untuk satu rumah baca, tetapi karena permasalahan di daerah–daerah di Papua relatif sama (akses buku, harga buku yang mahal dst) kami membuat gerakan ini bergerak lebih luas, mendukung proses pemberdayaan masyarakat di Papua dengan menyumbang & mengajak peran aktif masyarakat untuk bersama-sama membuat rumah baca.

Jadi bisa kalian bayangkan apabila setiap orang yang ke Papua dapat membawa 1-5 buku yang diambil dari drop off kami yang tersebar di berbagai kota di Jawa. Makasar dan Bali (14 kota)  untuk diberikan ke drop off  di tiap kota di Papua ( 6 kota menyusul yang lain) – setiap orang peduli pendidikan. Setiap 4 bulan pengiriman dalam jumlah 100 kg buku di kirim ke berbagai kota di Papua untuk selanjutnya menjangkau titik titik kota kecil, kampung di pedalaman. Semua orang dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini kita akan saling bersinergi membantu & mendukung demi perbaikan pendidikan Papua yang lebih baik. Dari rumah baca tumbuhkan minat baca untuk kepedulian aksi nyata untuk Papua.

Bagaimana berkontribusi di dalam kegiatan ini caranya mudah sekali teman-teman, cukup donasikan sebagian buku Anda yang sekiranya layak untuk dibaca dan memiliki muatan jenis buku edukatif diprioritaskan untuk anak-anak yang bersekolah dasar. Untuk info lengkapnya teman-teman dapat mengakses informasi disini. Jangan khawatir kini tersedia drop off pengumpulan buku terdekat di kota Anda, nah bagi kalian yang berdomisili misalnya di Surabaya yang berkeinginan berdonasi buku untuk anak-anak Papua, pertama langkah yang Anda ambil adalah cukup mention ke akun sosial media @BupSoerabaya dari situ anda dapat mengakses informasi atau buku Anda yang akan kami jemput di tempat tinggal Anda, sederhana bukan. Dari serangkaian langkah kecil ini semoga membawa langkah perubahan yang besar demi terwujudnya pendidikan Papua yang lebih baik. Setidaknya menyumbangkan buku yang Anda miliki untuk mereka anak-anak pedalaman yang haus akan kebutuhan ilmu pengetahuan. Sebuah Buku bangkitkan Papua !!

Kumpul buku-inspirasikan rumah baca-tumbuhkan budaya baca dengan aksi nyata untuk Papua       |bupsurabaya@gmail.com| 081232918151     @BupSoerabaya bukuntukpapua.org

 @Benradit

                                                                                                           19.15 WIB  27-06-2013                                                                                                                        Warkop Giras, Rungkut Surabaya

This entry was published on June 27, 2013 at 12:29 pm. It’s filed under Inspirasi Kehidupan, Komunitas, pendidikan and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: