Coretan Penghuni Jalanan

Bangunan Tempat Belajar Kami Boleh Tergusur Namun Cita-Cita Kami Tak Terkubur

DSC_0921Potret adik-adik marjinal JMP, April 2013

Pernahkah Anda membayangkan mengajar di pinggir jalan dengan situasi kondisi tidak kondusif, tak jarang orang dengan seenaknya berlalu lalang melintasi jalan tersebut, sesekali menengok ke arah kita dengan tatapan tajam penuh tanya, seakan mereka bertanya apa yang sedang dilakukan segelintir pemuda bersama anak-anak kecil dengan wajah lugu tersebut ? bermodalkan papan dan alat tulis sebagai ujung tombak pelita harapan, tampak wajah pemuda yang selalu dihiasi senyum dan tangan yang tak segan untuk mengulurkan tangan berbagi ilmu, cinta dan harapan kepada setiap anak-anak yang bermukim di bantaran kali Jembatan Merah. Meskipun akses untuk menyediakan fasilitas belajar sangat memprihatinkan para pengajar keren tersebut tak patah arang dengan sigap memutar otak untuk membangkitkan semangat belajar para peserta didik. Tampaknya adik-adik sekarang kehilangan motivasi belajar.

Itu lah sedikit gambaran yang bisa saya simpulkan ketika saya berkunjung di lokasi belajar JMP beberapa hari yang lalu, berbeda 180 derajat, jika dahulu anak-anak yang belajar di Mushollah berkisar 20 siswa namun kini hanya menyisahkan kurang dari 5 adik-adik saja. Bisa anda bayangkan sendiri ini sebuah ironi bagi kami. Boleh dikatakan dahulu interaksi antara pengajar dengan anak-anak sangat lekat bahkan tak sedikit pengajar sudah menganggap mereka sebagai adik sendiri, entah mengapa keadaan seakan berubah ?  perubahan itu baru terasa ketika ketika bangunan kami biasa mengajar yakni Mushollah terhempas oleh roda traktor dan tangan manusia di bulan November 2013 silam, mereka saya ibaratkan seperti mesin robot menunggu keputusan dari atasan, terpaku oleh sistem dengan tangan besi siap merobohkan setiap bangunan liar.

Berita malang tidak bisa ditolak, dulu sebelum peristiwa naas itu terjadi saya dan teman-teman sempat bersitegang dengan aparat sedari dulu mengingatkan kami untuk segera angkat kaki dari lokasi belajar tersebut, awalnya dengan cara persuasif namun tak lama kemudian mereka menggunakan cara represif. Ya sudah lah pikirku dulu dengan berat hati sebelah karena memang kita tak memiliki kekuatan hukum yang kuat & tepat untuk mempertahankan bangunan tersebut. Namun kini pengajar kembali berbenah mencoba menemukan formula yang tepat untuk menarik hati adik-adik untuk bersedia belajar kembali ditengah kondisi serba terbatas minim fasilitas jangan kan untuk bangku kecil & atap bangunan rumah kini tak ada yang tersisa hanya segenggam asa & cinta kasih sayang yang kami berikan kepada adik-adik.

Tentunya sebuah ironi dan menyakitkan hati ketika mendengar berita di media bahwa anak-anak tidak bisa melanjutkan ke sekolah karena lagi-lagi alasan klasik yaitu ekonomi, kendala biaya kerap kali menjadi faktor penghalang anak untuk mengakses pendidikan. Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) terbaru menunjukkan 67 persen masyarakat menyatakan bahwa ketiadaan biaya memaksa mereka memutuskan tidak bersekolah atau putus sekolah. Faktor lainnya adalah larangan orang tua, keharusan anak bekerja menopang kehidupan keluarga serta faktor geografis. Bangsa ini kembali merintih kesakitan anak-anak yang sejatinya mendapatkan haknya yakni pendidikan kini sedang berjuang ditengah himpitan perekonomian, tak sedikit yang mengubur rapat-rapat angan & cita-cita mereka.

@SSChildSurabaya

Dulu Tan Malaka selalu berkata di podium, pendidikan itu mempertajam kecerdasan dan memperhalus perasaan. Ungkapan tersebut setidaknya menjadi pelecut semangat untuk saya pribadi dan membangkitkan semangat kami mendampingi adik-adik JMP untuk belajar. Memperluas jaringan knowledge itu mudah saja kok hanya dibutuhkan semangat dan berkompeten dibidangnya dan dibalut semangat kepedulian kepada sesama terlepas dari embel-embel birokrasi yang rumit. Cukup lakukan sekarang jangan menunggu waktu yang tepat untuk segera membuat suatu perubahan. Beberapa saat yang lalu saya & teman-teman pengajar JMP terlibat diskusi ringan membahas tentang kondisi JMP saat ini, kembali menemukan benang merah problematika yang pertama adalah semenjak ada penggusuran semangat belajar adik-adik kendor, untuk kedua adalah tempat belajar kurang kondusif ketiga yakni kurikulum pendidikan yang kurang sesuai mengingat anak-anak JMP sebagian besar putus sekolah.

Solusinya adalah perlu adanya penyeragaman mengenai kurikulum dan kakak pengajar (opreq). Untuk kurikulum disesuaikan dengan adik-adik yang mayoritas putus sekolah, skill mereka perlu diasah dan diperbanyak (misalkan dibuka kelas musik). Mungkin lebih tepatnya pendidikan berbasis keterampilan, karena saya dan teman-teman pengajar yang lain juga menyadari bahwa ada kekurangan selama mengabdikan diri mengajar anak-anak marjinal stren kali Jembatan Merah yakni metode pendidikan terlalu banyak materi pelajaran tanpa disertai pengembangan ketrampilan dan kreatifitas, Banyaknya pelajaran membuat anak-naka marjinal JMP tidak punya banyak kesempatan untuk mengembangkan kreatifitasnya, mereka seakan bosan dijejali pelajaran eskak dari sekolahan setiap harinya, semoga sedikit perubahan metode belajar ini akan membangkitkan motivasi kembali adik-adik marjinal untuk kedepannya.

 @Benradit

                                                                                                           16.17 WIB  03-07-2013                                                                                                                        Warkop Giras, Rungkut Surabay

This entry was published on July 3, 2013 at 9:31 am. It’s filed under Inspirasi Kehidupan, Komunitas, pendidikan and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

2 thoughts on “Bangunan Tempat Belajar Kami Boleh Tergusur Namun Cita-Cita Kami Tak Terkubur

  1. semangat terus untuk pendidikan anak bangsa.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: