Coretan Penghuni Jalanan

Kebijakan Mobil Murah Atau Perbaikan Sektor Pendidikan

sekolah-kehidupan-anak-pedalaman-13Ironi bangsa ini kesenjangan pendidikan daerah pedalaman Indonesia 

Beberapa hari yang lalu, saya tersentak kaget mendengar pernyataan dari Bapak terhormat yan katanya Menteri Perindustrian MS Hidayat soal program mobil murah, saya teringat penggalan puisi WS Rendra: maksud baik saudara untuk siapa?

Sekedar informasi saja, baru-baru ini pemerintah membuat suatu inisiatif dengan menggandeng beberapa perusahaan yang bergerak di bidang otomotif mobil, adapun maksud tujuan adalah meluncurkan program mobil murah untuk rakyat kecil, yang mana menurut klaim mereka mobil ini nantinya ramah lingkungan dan pembuangan emisi gas karbon jauh lebih sedikit dibandingkan dengan transportasi masal pada umumnya low cost green car (LCGC)

Bahkan pemerintah pun berani mematok biaya yang sangat murah berkisar antara 75 juta hingga 100 juta per unit tak luput juga embel-embel ramah lingkungan hemat bahan bakar. Banyak kalangan dan kritikus menyikapi kebijakan mobil murah ini dengan suara berbeda yang mengkhawatirkan program ini justru akan memperparah kemacetan di kota-kota besar, untuk diketahui laju peningkatan kendaraan bermotor di Indonesia saat ini mengalami tingkat inflasi penjualan yang tinggi, hal ini nantinya justru akan memperparah kondisi dan semrawut wajah kota, sebagai konsekuensi logis yang kita terima adalah kemacetan yang tak bisa terhindarkan.

Hal senada penolakan dilontarkan oleh Gubernur DKI Jakarta yang terkenal akan gaya blusukan dari satu kampung ke kampung lainnya Mengutip dari pernyataan beliau Ia sadar, banjir bah mobil murah tersebut akan membuat kemacetan di Jakarta makin tidak terkendali.

Yang menarik adalah jawaban Menteri Perindustrian MS Hidayat terhadap penolakan tersebut. Menurut dia, program tersebut ditujukan kepada rakyat yang berpenghasilan kecil dan menengah. Tak hanya itu, politisi asal partai Golkar itu berseloroh, “Indonesia sudah 68 tahun merdeka, masa rakyat miskin tidak boleh membeli mobil murah.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah kebijakan mobil murah  itu murni untuk rakyat kecil ?

Penulis mencoba mempertanyakan mana yang lebih menjadi prioritas antara kebijakan mobil murah dibandingkan perbaikan sektor pendidikan khususnya di daerah yang belum terjamah sama sekali oleh pasokan aliran listrik belum lagi ditambah dengan segala macam kompleksitasnya yakni penyediaan fasilitas sekolah yang memprihatinkan dan kesejahteraan guru dinilai saat ini sangat minim. Saya rasa penulis menarik garis persoalan bahwa klaim dari Menteri M.S Hidayat itu patut dipertanyakan. Mengingat ini bukan lah sesuatu hal yang dianggap remeh berkaca pada kebijakan yang dilakukan pemerintah banan kompensasi kenaikan harga BBM beberapa bulan lalu, banyak sekali ditemukan fakta yang mengejutkan berupa ketimpangan daftar penerima, seharusnya orang yang berhak menerima kaum miskin namun kontradikitif, istilahnya tidak tepat sasaran.

Sobat BUP SorongKegiatan Sosial Distribusi @BukuntukPapua di Sorong, Papua Barat

Saya kira klaim tersebut hanya akal-akalan alibi dari aparatur pemerintah untuk melanggengkan bisnis jual beli mobil murah dengan kolaborator perusahaan otomotif asing saja demi meraup profit sebesar-besarnya, lagi-lagi yang diuntungkan adalah korporasi asing otomotif. Bayangkan, mereka akan mendapat akses pasar di 500-an kota di seluruh Indonesia. Sudah begitu, mereka mendapat insentif dari pemerintah. Penulis berpendapat bahwa permasalahan pokok masyarakat Indonesia adalah masalah pemenuhan hak kebutuhan dasar yang kurang dan masih berkutat di kubangan yang sama. Sekarang masih relevan kah kebijakan mobil yang katanya murah itu ?

Untuk diketahui, hingga tahun 2011, masih ada 11,7 Juta anak Indonesia yang tidak pernah tersentuh pendidikan dasar. Angka putus sekolah juga masih sangat tinggi. Tak hanya itu, masih ada 13 juta rakyat Indonesia yang belum punya rumah. PNS saja masih ada 25% yang belum punya rumah sendiri Di bidang kesehatan, masih 6,2 juta jiwa penduduk Indonesia tidak memiliki akses terhadap fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Sementara 36 juta penduduk Indonesia yang tak punya akses terhadap fasilitas kesehatan sekunder. Lalu, ada 48 persen penduduk Indonesia belum dapat mengakses sistem sanitasi bersih. Dan jangan lupa, masih ada 8 juta anak Indonesia yang kurang gizi.

Selain itu, kalau mau hemat energi dan pro-lingkungan, kenapa pemerintah tidak mendorong masyarakat untuk beralih menggunakan sepeda. Banyak kota besar di dunia, seperti Buenos Aires dan Amsterdam, justru menggalakkan warganya menggunakan sepeda. Selain hemat energi dan ramah lingkungan, gerakan sepeda juga mengurangi potensi kecelakaan maut yang menelan korban jiwa.

Andai saja pemerintah jeli dan mampu memprioritaskan mana yang menjadi fokus perhatian utamanya mengurai benang persoalan bangsanya kini, seperti halnya dengan akses pendidikan di daerah pelosok ujung Indonesia. Sampai saat ini pendidikan di Indonesia masih memerlukan perbaikan. Hal itu dapat dilihat dari beberapa kasus yang menggambarkan betapa memprihatinkannya kondisi pendidikan di Indonesia. Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya angka putus sekolah di Indonesia. Namun faktor paling umum yang dijumpai adalah tingginya biaya pendidikan yang membuat siswa tidak dapat melanjutkan pendidikan dasar. Data pendidikan tahun 2010 menyebutkan 1,3 juta anak usia 7-15 tahun terancam putus sekolah. Semoga kita tidak tinggal diam begitu saja menyikapi realitas pendidikan Indonesia saat ini.

16.09 WIB.19 September 2013

Rungkut, Surabaya 

This entry was published on September 19, 2013 at 9:08 am. It’s filed under Inspirasi Kehidupan, Opini Jalanan, pendidikan and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: